KENDALMU.OR.ID. Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam) Kendal mulai mengembangkan padi Mentari 1 sebagai varietas persyarikatan.
Tak sekadar uji tanam, pengembangan di Pantura Kendal diarahkan untuk menghasilkan benih murni yang nantinya dapat diperbanyak dan ditanam luas oleh anggota Jatam.
Sekretaris Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PDM Kendal, Sariyun mengatakan, penanaman Mentari 1 merupakan tindak lanjut amanat Jambore Jatam. Kendati saat ini masih tahap awal, Jatam menargetkan varietas tersebut dapat menjadi tanaman yang dikembangkan anggota di berbagai wilayah.
“Ini perdana Jatam Kendal mengembangkan padi Mentari 1 sebagai tindak lanjut amanat Jambore di Kebumen. Ke depan kami berharap anggota Jatam bisa menanam Mentari,” ujar Sariyun di sela panen perdana di Dukuh Balun, Desa Kebonsari, Kecamatan Rowosari, Selasa (22/9/2026).
Ketua MPM PWM Jawa Tengah, Fatkhurokhman menjelaskan, Mentari 1 dikembangkan Prof Toto Agung dan telah diwakafkan kepada Muhammadiyah. Saat ini legalisasi varietas masih berproses karena harus melalui uji multilokasi.
“Mentari 1 ini varietas persyarikatan. Proses legalisasinya masih berjalan karena harus melewati uji multilokasi,” jelasnya.
Ia menyebut tanaman yang beredar saat ini belum dapat disebut sebagai benih karena masih dibudidayakan untuk konsumsi.
Karena itu, malai terbaik dipilih untuk proses pemurnian menjadi benih inti yang selanjutnya akan diperiksa pemulianya.
Benih tersebut ditargetkan dapat diperbanyak dan diperkenalkan lebih luas pada Muktamar Muhammadiyah di Medan. Bahkan, diharapkan Mentari 1 dapat menjadi bagian konsumsi dan suvenir peserta muktamar.
Dari sisi karakter, Mentari 1 disebut memiliki kandungan protein yang diperkirakan mencapai 11 persen, meski angka tersebut masih membutuhkan pengujian laboratorium. Varietas ini juga berjenis japonica dengan karakter nasi sangat pulen atau disebut “super pulen”.
Petani pilot project, Ghufron mengatakan, hasil pengamatan di lahan Kendal menunjukkan anakan efektif sekitar 15-20 per rumpun. Ia juga melihat kulit gabah Mentari 1 relatif tipis sehingga berpotensi menghasilkan rendemen lebih tinggi.
“Harapannya bukan hanya produksinya tinggi, tetapi kualitasnya juga bagus. Katanya super pulen, jadi kami ingin membuktikan apakah benar pulen tenan,” kata Ghufron.
Ia berharap Mentari 1 dapat menjadi produk pertanian Muhammadiyah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi petani.
“Kami bangga Muhammadiyah punya produk sendiri. Kalau kualitasnya lebih pulen, harapannya harga jualnya juga bisa lebih tinggi,” pungkasnya. (fur)
