Oleh : Galuh Andi Luxmana
Ada kegelisahan yang akhir-akhir ini semakin sering muncul dalam dunia pendidikan: mengapa sebagian orang tua begitu bersemangat menjadikan anaknya “superstar” di sekolah? Anak didorong untuk memperoleh nilai tertinggi, memenangkan perlombaan, menjadi juara kelas, menghafal lebih banyak, atau mendapatkan berbagai penghargaan.
Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan keinginan orang tua melihat anaknya berhasil. Masalah muncul ketika keberhasilan itu mulai didefinisikan secara sempit, anak dianggap berhasil apabila ia lebih unggul daripada anak lain.
Di titik inilah pendidikan berisiko kehilangan maknanya. Pendidikan yang seharusnya menjadi proses membantu seorang anak mengenali dirinya, mengembangkan potensinya, membangun karakter, dan bertumbuh secara utuh, perlahan berubah menjadi arena perbandingan. Anak bukan lagi dilihat sebagai manusia yang sedang tumbuh, melainkan seperti sebuah prestasi yang dapat dipamerkan. Pertanyaan “Apakah hari ini kamu lebih baik daripada dirimu yang kemarin?” perlahan digantikan oleh pertanyaan “Kamu dapat peringkat berapa?” atau “Mengapa kamu tidak seperti anak itu?”
Bayangkan seorang anak bernama Raka (misal). Ia bukan anak yang selalu mendapatkan nilai tertinggi.
Raka dengan keterbatasannnya dimateri tertentu namun ia tetap mencoba dan ia berhasil melampaui pekerjaanya yang lalu meskipun tidak sebagus nilai temannya namun perjuangannya merupakan suatu kemajuan.
Sayangnya, ketika pulang ke rumah, yang ditanyakan justru, “Temanmu yang juara kelas dapat nilai berapa?” Ketika diketahui nilai Raka masih berada di bawah temannya, seluruh perkembangan itu seolah menjadi tidak berarti.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan merenungi bagaimana seorang anak yang sedang berproses. Bukankah seorang anak yang tidak berani berbicara kemudian berani mengemukakan pendapat sedang mengalami pertumbuhan? Bukankah anak yang selalu menyerah kemudian ia bertahan menghadapi kesulitan juga sebuat pertumbuhan?.
Gagasan ini sejalan dengan pemikiran sejumlah ahli pendidikan modern, Carol Dweck misalnya, melalui gagasan growth mindset, menunjukkan pentingnya melihat kemampuan sebagai sesuatu yang dapat berkembang melalui usaha, strategi, dan proses belajar.
Fokus pendidikan dengan demikian tidak semata-mata pada “seberapa pintar anak sekarang”, tetapi pada bagaimana anak berkembang menghadapi tantangan.
Begitu pula Howard Gardner melalui gagasan multiple intelligences mengingatkan bahwa kemampuan manusia tidak hadir hanya dalam satu bentuk kecerdasan yang dapat diukur melalui ujian akademik.
Seorang anak mungkin tidak menonjol dalam matematika, tetapi sangat kuat dalam bahasa, musik, hubungan sosial, gerak tubuh, kreativitas, atau kemampuan memahami dirinya sendiri.
Karena itu, membandingkan semua anak dengan satu ukuran keberhasilan dapat membuat kita gagal melihat kekayaan manusia yang sesungguhnya.
Anak bukan produk yang dibuat dengan cetakan yang sama. Mereka tumbuh dengan tempo, kecenderungan, pengalaman, dan kekuatan yang berbeda.
Dalam perspektif Islam, kegelisahan ini menjadi semakin penting karena anak bukanlah milik orang tua untuk dijadikan alat memenuhi ambisi sosial.
Anak adalah amanah. Al-Qur’an menggambarkan anak dan harta sebagai perhiasan kehidupan dunia, tetapi pada saat yang sama Islam berkali-kali mengingatkan manusia tentang tanggung jawab moralnya.
Nabi Muhammad SAW juga menekankan bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab atas apa yang berada dalam pengurusannya. Karena itu, tugas orang tua semestinya bukan sekadar menghasilkan anak yang membuat mereka bangga di hadapan manusia, tetapi membantu anak menjadi manusia yang baik di hadapan Allah.
Ukuran keberhasilan anak dalam Islam tidak berhenti pada kecerdasan, popularitas, kekayaan, atau kemenangan atas orang lain. Nilai manusia berkaitan dengan ketakwaan, akhlak, amal, tanggung jawab, dan kemanfaatannya. Bahkan Al-Qur’an menegaskan, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini memberikan perspektif penting bahwa kemuliaan manusia tidak dibangun di atas kompetisi sosial semata. Dengan demikian, pendidikan seharusnya membantu anak mengenal potensi dirinya sekaligus mengarahkannya menjadi pribadi yang bertanggung jawab, berakhlak, dan dekat dengan Tuhannya.
Barangkali persoalan yang lebih dalam bukanlah ambisi terhadap prestasi anak, melainkan ketika prestasi itu diam-diam dijadikan sumber harga diri orang tua. Anak mendapat piala, orang tua merasa berhasil, anak masuk sekolah unggulan, orang tua merasa terhormat.
Sebaliknya, ketika anak gagal, muncul rasa malu dan kecewa. Dalam kondisi seperti ini, anak dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa kasih sayang dan penerimaan orang tua harus “dibeli” melalui prestasi. Ia belajar bukan karena ingin memahami, tetapi karena takut mengecewakan; mengejar nilai bukan karena mencintai ilmu, tetapi karena takut dianggap gagal.
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita mengembalikan pendidikan kepada makna yang lebih manusiawi dan lebih sesuai dengan fitrah anak.
Anak tidak harus menjadi superstar bagi dunia untuk menjadi seseorang yang sempurna. Seorang anak yang belajar mengendalikan emosinya, seorang anak yang akhirnya berani bertanya, seorang anak yang mulai mau membaca, seorang anak yang belajar meminta maaf, seorang anak yang dahulu takut mencoba lalu hari ini berani gagal semuanya sedang tumbuh. Tugas orang tua hanyalah menemani anak menemukan siapa dirinya dan mengarahkan potensinya kepada kebaikan.
Pendidikan yang sehat bukanlah perlombaan untuk memastikan anak kita berada di depan anak-anak lain. Pendidikan adalah perjalanan untuk memastikan seorang anak semakin dekat dengan potensi terbaik yang Allah titipkan kepadanya.
Maka barangkali pertanyaan yang perlu kita ubah bukan “Mengapa anak saya tidak sehebat anak orang lain?”, melainkan “Apa yang sedang tumbuh dalam diri anak saya yang mungkin belum mampu saya lihat?” Sebab bisa jadi, di balik prestasi yang sederhana dan perkembangan yang tidak masuk papan pengumuman sekolah, sedang tumbuh seorang manusia yang luar biasa.
Galuh Andi Luxmana, S..Pd,I;, M. Pd adalah Praktisi Pendiidikan, dan Ketua Korp Mubaligh Muhammadiyah Kendal
