Cerbung Gofur Alkendali
Bab 2: Mata Air yang Bernama Taubat
Sejak pertemuan itu, Jefri tidak segera berubah menjadi manusia yang saleh.
Haji Sadikin memang tidak pernah menjanjikan keajaiban.
“Taubat bukan pintu yang sekali dibuka langsung mengubah seluruh isi rumah,” begitu kata beliau ketika Jefri hendak berpamitan sore itu. “Taubat adalah cahaya kecil. Tugasmu menjaganya agar tidak padam.”
Kalimat itu terus berputar di kepala Jefri sepanjang perjalanan pulang.
Danang mengendarai sepeda motornya perlahan melewati hamparan sawah yang mulai menguning.
Matahari condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan pada setiap bulir padi yang bergoyang ditiup angin.
“Diam saja sejak tadi,” ujar Danang sambil tetap menatap jalan.
“Aku sedang berpikir.”
“Berpikir tentang apa?”
Jefri menarik napas panjang.
“Ternyata selama ini aku lebih sering meminta Allah mengubah hidupku daripada mengubah diriku.”
Danang tersenyum.
“Itu berarti nasihat Haji Sadikin mulai masuk.”
“Tapi aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut Allah sudah terlalu lama kecewa kepadaku.”
Danang menghentikan motornya di tepi jalan. Ia menoleh kepada sahabatnya.
“Jefri, kalau seorang ibu masih membuka pintu rumah untuk anaknya yang pulang setelah bertahun-tahun, apakah menurutmu Allah yang Maha Pengasih akan menutup pintu ampunan bagi hamba yang benar-benar ingin kembali?”
Jefri terdiam.
Matanya memandang langit yang mulai memerah.
Barangkali benar. Selama ini bukan Allah yang menjauh.
Dirinyalah yang terlalu sibuk berjalan ke arah lain.
________________________________________
Malam itu, Jefri membuka lemari tua di kamarnya. Di sudut paling bawah tersimpan sebuah kotak kayu. Kotak itu berisi benda-benda yang tidak pernah lagi ingin ia lihat.
Foto-foto lama, surat-surat, catatan tentang impian yang pernah dibangun bersama orang-orang yang kini telah menjadi kenangan.
Ia duduk di lantai.
Satu per satu benda itu disentuhnya.
Tidak ada lagi kemarahan.
Tidak ada dendam.
Yang ada hanya kesadaran bahwa waktu tidak pernah meminta izin sebelum mengubah segalanya.
Jefri kemudian mengambil selembar kertas kosong.
Dengan pena hitam ia menulis:
“Ya Allah, hari ini aku tidak sedang menulis daftar keinginanku. Aku hanya ingin menuliskan segala kesombongan yang pernah membuatku lupa kepada-Mu.”
Tangannya berhenti sejenak.
Air matanya jatuh mengenai tinta yang belum sempat mengering.
Ia melanjutkan menulis hingga halaman itu penuh oleh pengakuan-pengakuan yang selama ini hanya dipendam.
Malam itu tidak ada seorang pun yang membaca tulisan tersebut.
Selain Allah.
________________________________________
Beberapa hari kemudian, Jefri kembali menemui Haji Sadikin.
Kali ini ia datang sendirian.
Lelaki sepuh itu sedang menyapu halaman.
Melihat tamunya datang, beliau justru tetap melanjutkan pekerjaannya.
Jefri mengambil sapu lain yang bersandar di dinding.
“Biarkan saya membantu, Ji.”
Haji Sadikin tersenyum.
“Bagus.”
Mereka menyapu halaman bersama tanpa sepatah kata.
Setelah selesai, keduanya duduk di bawah pohon sawo.
“Tahu kenapa tadi saya tidak langsung mengajakmu bicara?” tanya Haji Sadikin.
Jefri menggeleng.
“Karena hati yang sedang belajar pulang harus lebih dulu belajar melayani.”
“Melayani?”
“Ya.”
Beliau menunjuk daun-daun kering yang telah terkumpul.
“Kesombongan sering bersembunyi di balik ilmu. Tetapi ia sulit hidup di dalam hati yang terbiasa melayani.”
Jefri mengangguk pelan.
Haji Sadikin kemudian mengambil segenggam tanah.
“Lihat tanah ini.”
Jefri memperhatikan.
“Semua orang menginjaknya.”
“Iya.”
“Tetapi justru dari tanah inilah tumbuh padi, buah-buahan, bunga, dan pepohonan.”
Beliau memandang Jefri dengan tatapan teduh.
“Kalau engkau ingin menjadi manusia yang bermanfaat, belajarlah seperti tanah. Tidak sibuk meminta dihormati, tetapi diam-diam memberi kehidupan.”
Jefri menundukkan kepala.
“Ji… kenapa semakin aku belajar agama, semakin aku merasa banyak dosaku?”
Haji Sadikin tersenyum lebar.
“Itu pertanda baik.”
“Mengapa?”
“Karena cahaya membuatmu melihat debu yang sebelumnya tidak terlihat.”
Beliau melanjutkan dengan suara pelan.
“Orang yang jauh dari Allah sering merasa dirinya paling bersih. Sebaliknya, orang yang semakin dekat kepada Allah justru semakin sibuk memperbaiki dirinya.”
Angin berembus lembut.
Daun-daun sawo berguguran satu demi satu.
“Tahukah engkau, Jefri,” ujar Haji Sadikin, “iblis tidak selalu datang menyuruh manusia berbuat maksiat.”
“Lalu?”
“Kadang ia membisikkan satu kalimat yang lebih berbahaya.”
“Apa itu?”
“‘Engkau sudah cukup baik.'”
Jefri menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Astaghfirullah…”
“Selama engkau masih merasa perlu beristighfar, insyaallah Allah masih sedang membimbingmu.”
________________________________________
Sebelum pulang, Haji Sadikin mengajak Jefri berjalan menuju sungai kecil di belakang rumah.
Airnya mengalir jernih seperti pertama kali Jefri melihatnya.
“Masih ingat apa yang pernah saya katakan tentang sungai?”
“Ingat, Ji.”
“Semua sungai bermuara ke laut.”
Haji Sadikin mengangguk.
“Dan semua hati yang ikhlas akan bermuara kepada Allah.”
Beliau memungut sehelai daun kering lalu meletakkannya di permukaan air.
Daun itu hanyut mengikuti arus.
“Daun ini tidak melawan arus karena ia telah melepaskan dirinya.”
Beliau menatap Jefri dalam-dalam.
“Begitu pula seorang hamba. Selama ia masih menggenggam kesombongan, amarah, dan rasa memiliki yang berlebihan, ia akan terus tenggelam dalam kegelisahan. Tetapi ketika ia menyerahkan dirinya kepada Allah dengan penuh tawakal, hidupnya akan mengalir menuju ketenangan.”
Jefri memandangi daun yang semakin jauh terbawa arus.
Di dalam dadanya tumbuh keyakinan baru.
Bahwa perjalanan menuju Allah bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling istiqamah melangkah.
Saat ia berpamitan, Haji Sadikin memegang pundaknya.
“Ingat satu hal, Jefri.”
“Apa itu, Ji?”
“Jangan pernah merasa sudah sampai. Selama napas masih ada, kita semua hanyalah musafir yang sedang berjalan menuju rumah yang sesungguhnya.”
Jefri mencium tangan guru yang dicintainya itu.
Di perjalanan pulang, langit kembali dihiasi warna jingga.
Namun kali ini, langkahnya terasa jauh lebih ringan.
Ia tahu, perjalanan ruhani masih panjang.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia tidak lagi takut menempuhnya.
Sebab kini ia telah menemukan mata air yang selama ini dicarinya.
Mata air itu bernama taubat.
bersambung
Awal Agustus 2026
