Cerbung Gofur Alkendali
Bagian 1
Lelaki yang Pulang kepada Kesunyian
Hujan baru saja berhenti. Butir-butir air masih menggantung di ujung daun mangga di halaman rumah tua itu. Sesekali angin menggoyangkannya hingga jatuh perlahan ke tanah, seolah langit belum benar-benar selesai menangis. Di dalam rumah yang sederhana, seorang lelaki duduk sendiri di beranda. Namanya Jefri.
Usianya baru menginjak tiga puluh lima tahun, tetapi wajahnya menyimpan kelelahan yang sulit dijelaskan. Ada gurat-gurat yang bukan lahir karena umur, melainkan oleh perjalanan hidup yang terlalu sering mengajarinya kehilangan.
Di tangannya, secangkir kopi telah lama dingin. Ia tidak meminumnya.
Tatapannya justru larut menembus gelap yang membungkus pematang sawah di depan rumah. Malam selalu mempunyai cara untuk membuka pintu-pintu kenangan yang siang hari sengaja dikunci rapat.
“Aku ini sebenarnya sedang mencari apa?” gumamnya lirih.
Pertanyaan itu tidak ditujukan kepada siapa pun. Sudah bertahun-tahun ia mengejar banyak hal. Jabatan. Penghasilan. Pengakuan. Kehormatan. Semua pernah singgah.
Namun, ketika satu demi satu pergi, Jefri baru sadar bahwa ternyata tidak ada satu pun yang mampu mengisi ruang kosong di dalam dadanya. Langkah kaki terdengar dari halaman.
“Masih belum tidur?”
Suara itu membuat Jefri menoleh.
Seorang lelaki bertubuh tinggi mengenakan jaket lusuh berdiri di pagar bambu.
“Danang…”
Danang tersenyum tipis.
“Kukira kau sudah tidur.”
“Kalau hati belum tenang, mata sulit diajak tidur.”
Danang masuk tanpa banyak bicara. Persahabatan mereka telah berlangsung sejak kecil. Tak perlu banyak kalimat untuk memahami satu sama lain.
Ia duduk di samping Jefri. Mereka sama-sama memandang langit.
“Masih memikirkan semuanya?”
Jefri mengangguk pelan.
“Aku merasa semakin jauh berjalan, semakin aku tidak mengenali diriku sendiri.”
Danang menghela napas.
“Aku juga pernah begitu.”
Jefri menoleh.
“Kau?”
Danang tersenyum.
“Bedanya, aku lebih cepat sadar.”
Mereka tertawa kecil. Tawa yang sebentar saja, lalu kembali tenggelam dalam kesunyian.
Setelah beberapa saat, Danang berkata perlahan,
“Besok ikut aku.”
“Ke mana?”
“Ke rumah Haji Sadikin.”
Jefri mengernyit.
“Untuk apa?”
“Kadang manusia tidak membutuhkan jawaban. Ia hanya butuh seseorang yang mengingatkannya kepada Allah.”
Pagi datang bersama embun. Rumah Haji Sadikin berdiri di tepi kebun bambu. Tidak besar, bahkan nyaris tak berbeda dengan rumah-rumah warga lainnya. Yang membedakan hanyalah suasananya. Ada ketenangan yang sulit diterangkan.
Di halaman tumbuh pohon sawo tua. Di teras, beberapa santri kecil sedang mengaji. Haji Sadikin duduk di kursi kayu sambil membaca Al-Qur’an. Jubah putihnya sederhana. Sorban kecil melingkar di kepalanya.
Ketika melihat Danang dan Jefri datang, beliau menutup mushaf perlahan lalu tersenyum.
“Silakan masuk.”
Jefri menyalami tangan lelaki sepuh itu. Entah mengapa, genggaman tangan itu terasa hangat.
“Ini Jefri, Ji,” kata Danang.
“Saya sering mendengar namanya.”
Jefri terkejut.
“Dari siapa?”
“Dari Danang.”
Danang hanya tersenyum. Haji Sadikin mempersilakan mereka duduk.
Tidak ada ceramah. Tidak ada nasihat panjang. Beliau justru bertanya,
“Jefri… kapan terakhir kali engkau benar-benar berbicara kepada Allah?”
Pertanyaan itu membuat dada Jefri bergetar.
“Saya… salat lima waktu, Ji.”
Haji Sadikin mengangguk.
“Itu kewajiban.”
Beliau berhenti sejenak.
“Yang saya tanyakan, kapan terakhir kali engkau menangis di hadapan-Nya tanpa meminta dunia?”
Jefri terdiam. Ia mencari jawaban. Namun yang ditemukannya hanya kesunyian. Haji Sadikin tersenyum lembut.
“Jangan malu kalau tidak bisa menjawab.”
Beliau menunjuk segelas air putih di meja.
“Coba lihat air ini.”
Jefri memperhatikannya.
“Kalau gelasnya penuh lumpur, lalu kita ingin membersihkannya, apa yang harus dilakukan?”
“Dituangi air bersih.”
“Apakah sekali tuang langsung jernih?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Lumpurnya terlalu banyak.”
Haji Sadikin mengangguk.
“Itulah hati manusia.”
Jefri menunduk.
“Jangan mengira satu kali istighfar akan menghapus semua karat hati. Teruslah mengalirkan zikir, istighfar, dan amal baik. Sedikit demi sedikit, hati akan jernih. Allah tidak menilai seberapa cepat engkau berubah. Allah melihat kesungguhanmu untuk kembali.”
Air mata Jefri mulai menggenang. Haji Sadikin melanjutkan,
“Anakku, banyak orang mengira taubat dimulai ketika seseorang berhenti berbuat dosa.”
Beliau menggeleng.
“Keliru.”
“Lalu kapan taubat dimulai, Ji?” tanya Jefri.
“Ketika seseorang berhenti membanggakan dosanya.”
Suasana menjadi hening. Hanya terdengar desir angin yang memainkan daun-daun bambu.
Danang menatap sahabatnya. Ia melihat sesuatu yang selama ini hilang dari wajah Jefri. Kerendahan hati. Haji Sadikin bangkit. Beliau mengajak keduanya berjalan menuju kebun belakang. Di sana mengalir sebuah sungai kecil. Airnya bening.
“Jefri.”
“Iya, Ji.”
“Lihat sungai itu.”
Jefri memandang aliran air yang terus bergerak.
“Air tidak pernah menolak batu. Ia mengalir melewatinya.”
Beliau tersenyum.
“Jadilah seperti air. Jangan habiskan hidupmu mengutuk batu-batu ujian. Mengalirlah menuju Allah. Sebab semua sungai akhirnya bermuara ke laut.”
Jefri memejamkan mata. Ada sesuatu yang luruh dalam dadanya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa tidak harus menjadi manusia yang selalu tampak kuat.
Ia hanya perlu menjadi seorang hamba yang mau pulang. Dan barangkali, perjalanan paling jauh dalam hidup manusia bukanlah melintasi lautan atau mendaki gunung. Melainkan perjalanan dari kepala menuju hati. Dan dari hati menuju Tuhan.
bersambung
Gading akhir Juli 2026
