Cerpen Gofur Alkendali
Debu tipis beterbangan saat pemuda itu membuka pintu kamar lamanya. Sudah lima tahun Rafi meninggalkan rumah ini demi mengejar karier di ibu kota.
Kamar itu masih sama, namun ada sesuatu di sudut dekat lemari pakaian yang menarik perhatiannya. Sebuah kain beludru hijau tua bermotif masjid usang terlipat kaku.
Itulah sajadah lama yang tak tersentuh waktu, membisu dalam sepi, tertimbun tumpukan buku tua yang tak lagi dibaca.
Rafi mendekat lalu meraih sajadah itu. Jari-jarinya merasakan tekstur kain yang kasar karena tertutup debu tebal. Seketika, kilasan memori masa lalu berputar di kepalanya.
Sajadah ini adalah hadiah dari almarhum ayahnya saat Rafi pertama kali khatam Al-Qur’an. Dulu, benda ini begitu penuh kehangatan, menjadi saksi bisu tempatnya bersujud setiap waktu. Namun kini, kondisinya mengenaskan, terabaikan dan terlupakan.
Hari-hari Rafi di kota besar telah mengubah segalanya. Kehidupan berjalan begitu cepat, sangat sibuk dengan urusan dunia yang tiada habisnya. Pagi berganti malam hanya untuk mengejar target perusahaan, bonus bulanan, dan pujian dari atasan.
Rafi sering kali lupa pada janji setianya sebagai hamba. Azan yang berkumandang dari aplikasi ponselnya sering kali dianggap sebagai angin lalu, tertutup oleh suara bising rapat kerja.
Langkah kaki Rafi sebenarnya sudah terlalu jauh tersesat di sana. Di tengah gemerlap kota, dia merasa sukses secara materi, tetapi hatinya sering kali merintih dalam sepi yang fana.
Ada kehampaan yang tak bisa diisi oleh uang maupun jabatan. Setiap kali dia merebahkan tubuh di kasur apartemen mewahnya, dadanya terasa sesak. Dia merasa asing dengan dirinya sendiri.
Saat Rafi masih terpaku memandangi kain usang di tangannya, terdengar langkah kaki mendekat. Pintu kamar yang terbuka sedikit diketuk perlahan. Retno, ibunya, berdiri di sana dengan senyum hangat yang menyembunyikan rasa rindu mendalam.
“Rafi? Ibu cari kamu dari tadi, ternyata di sini,” sapa Retno lembut, melangkah masuk ke dalam kamar.
Rafi buru-buru mengusap sudut matanya yang mulai basah, mencoba tersenyum. “Iya, Bu. Rafi cuma mau lihat-lihat kamar lama. Ternyata banyak barang yang berubah ya, Bu.”
Pandangan Retno jatuh pada benda yang dipegang erat oleh putra tunggalnya. Senyum di wajah senja itu perlahan berubah menjadi tatapan penuh arti. Beliau mendekat, lalu mengelus pundak Rafi dengan kasih sayang seorang ibu yang tak pernah pudar oleh waktu.
“Kamu memegang sajadah itu, Nak,” ujar Retno pelan. “Sajadah itu sudah lama sekali tidak ada yang menyentuh sejak kamu pergi ke Jakarta. Ibu sengaja tidak memindahkannya, berharap suatu hari kamu sendiri yang akan mengambilnya lagi.”
Rafi menunduk, merasa hatinya seperti tertusuk sembilu. “Maafkan Rafi, Bu. Di kota, Rafi terlalu sibuk. Rasanya waktu berjalan cepat sekali sampai Rafi… Rafi sering lupa untuk sekadar duduk di atas sajadah ini.”
Retno menghela napas panjang, bukan karena marah, melainkan karena rasa prihatin yang mendalam atas beban yang dipikul anaknya.
“Ibu tahu hidup di kota besar itu keras, Rafi. Tapi ketahuilah, sesibuk apa pun kamu mengejar dunia, jangan pernah tinggalkan Dia yang memberi kamu napas. Dunia ini fana, Nak. Uang dan jabatan tidak akan bisa membasuhi hatimu yang gersang.”
Mendengar ucapan ibunya, pertahanan Rafi runtuh. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan, membasahi kain usang tersebut.
“Hati Rafi rasanya mati, Bu. Rafi merasa sukses di luar, tapi di dalam sini kosong sekali. Rafi bingung harus mulai dari mana lagi.”
Retno tersenyum lembut, lalu menangkup kedua pipi anaknya yang basah oleh air mata.
“Tidak ada kata terlambat untuk pulang, Rafi. Baik pulang ke rumah ini, maupun pulang kepada-Nya. Sentuhlah lagi sajadahmu. Mintalah ampunan, karena pintu maaf-Nya selalu terbuka lebih lebar dari samudera.”
“Ya Allah, kuingin kembali,” bisik Rafi lirih, menatap ibunya dengan tatapan penuh penyesalan.
Retno mengangguk pelan, memberikan kekuatan.
“Pergilah ambil wudu, Nak. Bersihkan dirimu, tenangkan jiwamu. Ibu tunggu di meja makan setelah kamu selesai.” Retno kemudian melangkah keluar, memberikan ruang privasi bagi anaknya untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta.
Rafi membulatkan tekad untuk membasuh hatinya yang hampir mati karena kelalaian. Dia berjalan menuju kamar mandi, memutar keran, dan membiarkan air wudu yang dingin menyentuh kulitnya.
Setiap basuhan air terasa seperti meruntuhkan beban berat yang selama ini menggelayuti jiwanya.
Kembali ke kamar, Rafi membentangkan sajadah tua itu menghadap kiblat. Dia mengibaskan debu-debu yang menempel di atas permadani kecil tersebut.
Bau khas kain tua bercampur wewangian samar masa lalu menyeruak, membawa rasa rindu yang mendalam pada masa kanak-kanaknya yang suci.
Rafi berdiri di atas sajadah, mengangkat kedua tangannya, dan memulai takbir. “Allahu Akbar…”
Seketika, seluruh kesombongannya runtuh. Saat dahinya menyentuh permukaan kain yang kasar, tangisnya tak lagi terbendung. Basah air mata meresap di sini, di atas motif masjid yang mulai pudar. Ini adalah sujud terlamanya setelah bertahun-tahun.
Rafi menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas bumi, merasa begitu kecil dan tak berarti di hadapan Sang Penguasa Semesta.
Dalam sujudnya, Rafi menumpahkan segala penyesalan diri pada Ilahi. Dia memohon ampunan atas segala waktu yang terbuang sia-sia, atas sujud-sujud yang sengaja dia tinggalkan, dan atas kesombongan duniawi yang sempat membutakan hatinya.
Dia menghadap ampunan yang Engkau beri dengan kepasrahan total.
“Bawa daku ke jalan ridho-Mu lagi, ya Allah,” doanya dalam hati, berulang-ulang hingga dadanya terasa lebih lapang.
Malam semakin larut, namun Rafi masih enggan beranjak dari sajadahnya. Dia duduk bersila, berzikir dengan jemarinya, merasakan kedamaian luar biasa yang tidak pernah dia temukan di gedung-gedung pencakar langit ibu kota.
Sajadah lama yang sempat tak tersentuh itu kini telah kembali pada fungsinya, menjadi jembatan rindu antara seorang hamba dan Tuhannya. Rafi berjanji dalam hati, ini adalah awal dari kepulangannya yang sesungguhnya sebelum ajal menjemput dan janji kembali kepada-Nya benar-benar tiba.
Gading, Malam ke 27 Juli 2026
