KENDALMU.OR.ID..Pemberdayaan ekonomi umat terus didorong Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kendal. Salah satunya melalui Sekolah Bisnis Muslim (SBM) yang kini ditempatkan sebagai salah satu program prioritas Muhammadiyah Kendal tahun 2026.
Ketua Panitia SBM ke-7, Shobaril Yuliardi, mengatakan penetapan SBM sebagai program prioritas menunjukkan keseriusan Muhammadiyah dalam menjadikan pemberdayaan ekonomi sebagai agenda utama persyarikatan.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada PDM Kendal yang telah menempatkan SBM sebagai program prioritas tahun 2026. Ini menunjukkan pemberdayaan ekonomi telah menjadi agenda utama Muhammadiyah,” ujar Shobaril, Sabtu (19/9/2026).
Menurutnya, perhatian terhadap sektor ekonomi sejalan dengan keputusan Muhammadiyah sejak Muktamar ke-47 di Makassar yang menempatkan ekonomi sebagai salah satu pilar gerakan persyarikatan.
Komitmen tersebut kemudian berkembang melalui berbagai jejaring ekonomi Muhammadiyah, seperti Jaringan Saudagar Muhammadiyah yang muncul pada 2015 dan Sekolah Bisnis Muhammadiyah yang mulai berkembang sekitar 2017.
Selain itu, secara nasional juga telah lahir Serikat Usaha Muhammadiyah.
“Ini menunjukkan Muhammadiyah dari pusat sampai daerah memiliki komitmen yang sama untuk memberdayakan dan membangun ekonomi umat,” katanya.
Shobaril menjelaskan, SBM ke-7 didesain untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha.
Berbeda dengan angkatan sebelumnya, penyelenggara juga memberikan ruang kepada sejumlah alumni untuk kembali terlibat mendampingi peserta.
Langkah tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem bisnis di lingkungan Muhammadiyah Kendal.
Para alumni diharapkan tidak hanya berhenti setelah mengikuti pelatihan, tetapi mampu membentuk jejaring usaha yang saling menguatkan.
“PR kita adalah bagaimana SBM mampu menghasilkan generasi dan jejaring bisnis Muhammadiyah. SBM, MEBP, dan Lazismu harus terus bersinergi meningkatkan skill SDM agar bisa masuk dan memperkuat jejaring Muhammadiyah,” tegasnya.
Dalam SBM ke-7, panitia mencatat sekitar 32 peserta yang berkomitmen mengikuti program. Menurut Shobaril, sejak pendaftaran dibuka cukup banyak calon peserta yang berkonsultasi dan berminat mengikuti program tersebut.
Namun, sebagian calon peserta sempat mengurungkan niat setelah mengetahui biaya program mencapai Rp500 ribu.
“Di awal banyak yang mundur karena mengira harus membayar biaya Rp500 ribu. Padahal SBM sepenuhnya dibiayai Muhammadiyah. Jadi jangan sampai orang yang ingin berkembang justru kehilangan peluang karena persoalan biaya,” tandasnya. (fur)
