KENDALMU.OR.ID – Kekeringan mulai memukul warga di sejumlah wilayah terutama Kendal atas. Kebutuhan air bersih kian mendesak, sementara sumber air warga terus menyusut. Muhammadiyah Kendal pun turun tangan dengan mengirim 22.050 liter atau setara 1.470 galon air bersih, yang distribusinya akan dilanjutkan rutin setiap dua hari.
Bantuan disalurkan ke warga Dukuh Pilangsari, Desa Sidodadi, Kecamatan Patean, Minggu (4/10/2026) sore.
Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kendal, Muntoha, mengatakan langkah tersebut merupakan respons atas kondisi kekeringan yang melanda sejumlah wilayah.
“Ada sepuluh titik di enam kecamatan yang harus kita sentuh. Kalau tidak ada koordinasi dan kolaborasi, tentu cukup memberatkan. Dengan hubungan lintas sektor yang baik, beban ini bisa kita tanggung bersama,” kata Muntoha.
Menurutnya, penanganan kekeringan tidak bisa dilakukan sendiri. Kolaborasi dengan pemerintah, BPBD, lembaga sosial, relawan dan masyarakat diperlukan agar bantuan merata dan tidak menumpuk di satu lokasi.

“Dalam kondisi kekeringan, setetes air itu luar biasa,” tegasnya.
Manajer Lazismu Kendal, Aovi AN Surya Madani mengatakan 1.470 galon tersebut dihimpun dari masyarakat melalui Lazismu.
Sumbangan datang dari berbagai elemen, termasuk siswa sekolah Muhammadiyah, warga, tenaga relawan hingga pemilik kendaraan yang membantu distribusi.
Galon yang terkumpul dibersihkan dan diisi air bersih dari Mata Air Seberuk, Kauman, Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo. Setiap KK mendapat lima galon sesuai hasil asesmen kebutuhan di lapangan.
Distribusi tidak berhenti pada penyaluran awal. Galon yang telah diterima warga akan dikumpulkan kembali dalam kondisi kosong untuk ditukar dengan galon berisi pada pengiriman berikutnya.
Pola ini diterapkan agar bantuan lebih merata, termasuk bagi warga lansia yang kesulitan mengambil air sendiri.

Sementara itu, tokoh masyarakat Dukuh Pilangsari, Tukiman, mengatakan wilayahnya mencakup enam RT dengan sekitar 230 KK. Saat kemarau, debit sumber air dari pegunungan mengecil sehingga pasokan tidak mencukupi.
“Kalau musim hujan sumber air masih cukup untuk kebutuhan warga. Tetapi setelah kemarau, debitnya kecil,” ujarnya.
Selama ini warga mengandalkan bantuan PMI, Polsek, Polres dan BPBD. Tukiman berharap tersedia penampungan air yang memadai serta bantuan pembangunan sumur untuk memperkuat pasokan jangka panjang.
Air bantuan diprioritaskan untuk konsumsi, memasak, mencuci, mandi, kakus, dan kebutuhan kebersihan dasar warga sehari-hari setempat.
Muhammadiyah menargetkan dropping air dilakukan dua hari sekali di titik yang telah dipetakan, hingga kebutuhan dasar warga terpenuhi atau mampu mandiri. (fur)
