KENDALMU.OR.ID. Kekeringan membuat air bersih berubah menjadi barang langka bagi warga Dukuh Pilangsari, Desa Sidodadi, Kecamatan Patean, Kendal. Persediaan air di rumah warga terus menipis, bahkan sebagian hanya mampu bertahan sekitar dua hari.
Di tengah kondisi itu, Muhammadiyah Kendal datang membawa bantuan air bersih untuk meringankan beban warga.
Bantuan air bersih tersebut disalurkan Muhammadiyah Kendal melalui Lazismu dan MDMC Kendal. Proses pendistribusian melibatkan sekitar 50 personel yang turun langsung ke lokasi untuk menyalurkan air kepada warga terdampak kekeringan.
Bagi Mularni, 42, warga RT 02 RW 06 Dukuh Pilangsari, bantuan tersebut terasa sangat berarti. Pasalnya, selama kekeringan, air yang tersedia di rumah harus dihemat agar bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.
“Alhamdulillah, senang dan ikut bersyukur sore ini kami mendapat bantuan air bersih dari Muhammadiyah,” ujar Mularni yang di depannya berjajar 5 buah galon mineral berisi air bersih dan siap diangkut.

Ia menuturkan, selama sumber air terbatas, warga mengandalkan persediaan air yang ditabung di rumah. Namun, air tersebut cepat habis sehingga warga harus kembali mencari pasokan.
“Biasanya kami menggunakan tabungan air. Dua hari sekali pun sampai kosong tempatnya. Kalau bisa, kebutuhan air setiap hari,” katanya.
Kondisi itu membuat warga harus mengatur penggunaan air secara ketat. Kebutuhan untuk memasak, mandi, mencuci hingga keperluan rumah tangga lainnya harus disesuaikan dengan jumlah air yang tersedia.
Kedatangan bantuan pun membuat Mularni dan warga Pilangsari merasa lebih lega. Setidaknya, untuk sementara waktu, kekhawatiran terhadap persediaan air yang terus menipis dapat berkurang.
Hal serupa dirasakan Kasiman, 54, warga RT 03 RW VI Dukuh Pilangsari. Di tengah musim kemarau yang membuat sumber air semakin sulit diandalkan, persediaan air di rumahnya mulai menipis. Kondisi tersebut membuat Kasiman harus lebih cermat menggunakan air agar kebutuhan keluarganya tetap terpenuhi.
Bagi Kasiman, air yang tersedia di rumah bukan sesuatu yang bisa digunakan tanpa perhitungan. Setiap kebutuhan harus disesuaikan dengan persediaan. Ketika air mulai berkurang, kekhawatiran kembali muncul karena warga tidak selalu mudah mendapatkan pasokan baru.
Karena itu, kedatangan bantuan air bersih disambut dengan rasa syukur. Bantuan tersebut datang ketika persediaan di rumahnya mulai menipis dan kebutuhan air untuk aktivitas sehari-hari tetap harus berjalan.

“Alhamdulillah, dengan adanya bantuan ini kebutuhan air bisa terpenuhi. Insyaallah sangat membantu,” ungkap Kasiman.
Menurutnya, bantuan air bersih memberi sedikit ruang bagi warga untuk bernapas di tengah kondisi kekeringan. Air yang diterima dapat digunakan untuk kebutuhan keluarga sehingga warga tidak harus terlalu khawatir ketika persediaan di rumah mulai habis.
Bagi warga Pilangsari, kondisi kekeringan bukan hanya persoalan berkurangnya sumber air. Dampaknya terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Air untuk mandi, mencuci, memasak hingga berbagai kebutuhan rumah tangga harus diatur penggunaannya. Bahkan, persediaan yang disimpan di rumah bisa cepat habis ketika kebutuhan meningkat.
Situasi itulah yang membuat kehadiran bantuan air memiliki arti lebih bagi warga.
Air yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, bagi warga yang sedang menghadapi kekeringan menjadi kebutuhan yang sangat berharga.
Bantuan tersebut disalurkan Muhammadiyah Kendal melalui Lazismu dan MDMC Kendal.

Sekitar 50 personel dilibatkan dalam proses pendistribusian. Mereka turun langsung membantu penyaluran air agar bantuan dapat diterima warga yang membutuhkan.
Keterlibatan puluhan personel tersebut sekaligus menunjukkan bahwa bantuan tidak hanya berupa air yang dikirim ke lokasi. Ada tenaga dan kepedulian yang ikut hadir bersama setiap distribusi.
Bagi Kasiman dan warga Pilangsari, bantuan itu memberi kepastian sementara bahwa kebutuhan air keluarga masih dapat terpenuhi.
Di tengah kekeringan yang belum sepenuhnya berakhir, setiap tetes air menjadi sangat berarti.
Sebab, bagi warga yang sedang berjuang menghadapi krisis air, bantuan bukan hanya tentang berapa banyak air yang diterima.
Lebih dari itu, bantuan menjadi tanda bahwa mereka tidak menghadapi kesulitan tersebut sendirian.
“Terima kasih Muhammadiyah atas bantuan air bersih yang diberikan. Di saat kami kesulitan mendapatkan air, bantuan ini hadir membawa kelegaan dan harapan. Setiap tetesnya sangat berarti bagi keluarga kami,” ungkap Kasiman penuh haru. (fur)
