KENDALMI.OR.ID – Salam bukan sekadar ucapan pembuka pertemuan atau penutup ibadah. Di dalamnya terkandung doa keselamatan, limpahan rahmat, dan keberkahan Allah SWT.
Pesan tersebut menjadi sorotan dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngampel yang mengkaji kitab Bulughul Maram, Ahad (1/11/2026), di Aula Kecamatan Ngampel.
Pengajian yang diikuti anggota PCM dan pegawai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tersebut menghadirkan Ustaz Mustofa sebagai penceramah.
Dalam kajian bab salam, ia mengajak jamaah memahami secara mendalam tuntunan Rasulullah SAW, termasuk lafaz salam dalam salat maupun kehidupan sehari-hari.
Ustaz Mustofa menjelaskan, setelah membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam salat, umat Islam menutup ibadah dengan mengucapkan salam. Lafaz tersebut telah dicontohkan Rasulullah dan harus dijalankan sesuai tuntunan.
“Cukup Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Tambahan lafaz lain menyalahi perintah Nabi,” tegasnya.
Ia menguraikan, salam mengandung doa agar keselamatan, rahmat, dan keberkahan Allah senantiasa tercurah kepada orang yang diberi salam. Karena itu, salam bukan sekadar formalitas komunikasi, melainkan ungkapan doa yang memiliki makna mendalam.
Menurutnya, rahmat dapat dimaknai sebagai bertambahnya kebaikan meskipun usia terus berkurang. Sementara rezeki yang berkah adalah kondisi ketika semakin banyak rezeki, semakin bertambah pula kebaikan yang dihasilkan.
Ustaz Mustofa juga mengingatkan bahwa sumber keberkahan hanya Allah SWT, bukan manusia ataupun benda tertentu. Ia mencontohkan kepercayaan terhadap sumur yang dianggap keramat dan diyakini dapat mendatangkan jodoh maupun kesehatan.
“Salam harus kita maknai secara dalam, bukan hanya sebagai lipstik hiasan bibir,” ujarnya.
Terkait salam kepada nonmuslim, ia menjelaskan pandangannya berdasarkan hadis bahwa umat Islam tidak memulai salam tersebut. Adapun ketika menerima salam, jawaban yang disampaikan cukup wa’alaikum.
Ia juga menyinggung kebiasaan sejumlah pejabat mengucapkan salam lintas agama yang menurut pandangannya perlu disesuaikan dengan tuntunan syariat.
Melalui pengajian ini, jamaah diharapkan tidak berhenti pada kebiasaan mengucapkan salam, tetapi memahami kandungan doa dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.(rio)
