Refleksi Hari Santri Nasional 2026
oleh: Romanto Pribadi*
Setiap 22 Oktober 2026, kita memperingati Hari Santri Nasional. Namun, sesungguhnya, peringatan Hari Santri bukan sekadar tentang mengenakan sarung, memakai peci, membaca kitab kuning, mengikuti upacara, atau menggemakan selawat.
Lebih dari itu, Hari Santri adalah momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah kita menjadi manusia yang berilmu, beriman, berakhlak, dan memberikan manfaat bagi sesama?
Sebab, menjadi santri bukan semata-mata tentang di mana seseorang belajar, melainkan tentang bagaimana ia menjalani kehidupan dengan nilai-nilai Islam.
Santri bukan hanya mereka yang tinggal di pondok pesantren. Dalam makna yang lebih luas, semangat kesantrian dapat hidup pada setiap muslim yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu, memuliakan guru, menghormati orang tua, menjaga ibadah, dan mengabdikan hidupnya untuk kebaikan.
Secara bahasa, kata santri tidak memiliki kepanjangan resmi berupa rangkaian huruf. Akan tetapi, sebagai sarana refleksi dan pendidikan karakter, kita dapat membuat akronim kreatif yang menggambarkan nilai-nilai luhur seorang santri.
Salah satu rumusan reflektif yang dapat kita gunakan adalah:
S — Shalih dalam Iman dan Ibadah
A — Amanah dalam Perkataan dan Perbuatan
N — Nalar yang Cerdas dan Berkemajuan
T — Tangguh dalam Perjuangan dan Pengabdian
R — Rendah Hati dalam Ilmu dan Pergaulan
I — Istikamah dalam Kebaikan
Enam nilai tersebut merupakan akronim reflektif, bukan definisi bahasa atau kepanjangan resmi kata SANTRI. Namun, nilai-nilai itu dapat menjadi pengingat bahwa kesantrian harus tercermin dalam iman, amanah, kecerdasan, ketangguhan, kerendahan hati, dan keistikamahan.
Tanggal 22 Oktober memiliki makna sejarah yang mendalam. Pada 22 Oktober 1945, para ulama mengeluarkan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak penting yang menghubungkan perjuangan keagamaan dengan perjuangan kebangsaan.
Pemerintah kemudian menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.
Sejarah itu mengajarkan bahwa santri tidak boleh menjadi penonton ketika agama, kemanusiaan, dan bangsanya menghadapi persoalan. Para pendahulu telah memberikan teladan bahwa cinta kepada Allah, kecintaan kepada tanah air, dan tanggung jawab kepada sesama dapat berjalan seiring dalam perjuangan yang bermartabat.
Namun, perjuangan santri hari ini memiliki tantangan yang berbeda.
Jika dahulu para ulama dan santri menghadapi penjajahan fisik, kini kita menghadapi penjajahan dalam bentuk kebodohan, kemiskinan, korupsi, narkoba, perjudian daring, penyebaran kebencian, disinformasi, dan kemerosotan akhlak.
Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, kini perjuangan dilakukan untuk mengisi kemerdekaan dengan ilmu, keadilan, kesejahteraan, dan peradaban.
Kita membutuhkan santri yang berani melawan kebodohan dengan pendidikan, melawan kemiskinan dengan pemberdayaan, melawan korupsi dengan kejujuran, melawan kebencian dengan akhlak mulia, dan melawan penyalahgunaan teknologi dengan kecerdasan serta tanggung jawab moral.
Dengan demikian, kita memerlukan semacam resolusi akhlak: tekad bersama untuk menjadikan nilai-nilai Islam sebagai kekuatan dalam memperbaiki kehidupan.
Sebab, bangsa yang kuat tidak cukup dibangun dengan kecerdasan intelektual. Bangsa yang kuat juga memerlukan manusia yang jujur, amanah, adil, disiplin, dan bertanggung jawab.
Kita hidup pada zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk merenungkannya. Telepon pintar dapat membuka jendela ilmu pengetahuan, tetapi pada saat yang sama dapat menjadi pintu masuk bagi kemaksiatan dan kerusakan moral.
Santri hari ini tidak cukup hanya mampu mengoperasikan teknologi. Ia harus mampu mengendalikan dirinya ketika menggunakan teknologi.
Santri harus mampu menjadikan dunia digital sebagai ladang dakwah, pendidikan, kreativitas, kewirausahaan, dan pengabdian. Ia harus mampu menghasilkan karya, bukan hanya menjadi konsumen konten; menyebarkan pencerahan, bukan memperkeruh keadaan; serta membangun persaudaraan, bukan memperbesar permusuhan.
Tema Hari Santri Nasional 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, memberikan pesan bahwa masa depan Indonesia membutuhkan generasi yang berakar kuat pada nilai-nilai luhur sekaligus memiliki kemampuan untuk berinovasi.
Indonesia Emas tidak akan terwujud hanya dengan pembangunan gedung-gedung tinggi, jalan-jalan lebar, atau kemajuan teknologi. Indonesia Emas membutuhkan manusia yang unggul dalam ilmu, kuat dalam karakter, sehat dalam kehidupan, produktif dalam karya, dan luhur dalam akhlak.
Kesalehan tidak boleh berhenti pada kesalehan individual. Ia harus berkembang menjadi kesalehan sosial.
Santri yang rajin beribadah harus peduli kepada fakir miskin. Santri yang mendalami Al-Qur’an harus ikut memperbaiki kehidupan masyarakat. Santri yang memahami ajaran Islam harus menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Sebab, ilmu yang tidak memberi manfaat akan kehilangan sebagian dari tujuan mulianya, sedangkan kesalehan yang tidak melahirkan kepedulian sosial belum sepenuhnya menghadirkan keindahan ajaran Islam dalam kehidupan bersama.
Pada akhirnya, Hari Santri bukan hanya milik mereka yang sedang belajar di pesantren. Hari Santri adalah momentum bagi kita semua untuk memperbarui komitmen menjadi manusia pembelajar dan pengamal nilai-nilai Islam.
Menjadi santri berarti bersedia terus belajar, bahkan ketika telah menjadi guru; bersedia menerima nasihat, bahkan ketika telah menjadi pemimpin; dan bersedia memperbaiki diri, bahkan ketika orang lain menganggap kita telah baik.
Santri sejati tidak pernah selesai dengan proses pendidikan dirinya sendiri. Selama hayat masih dikandung badan, selama itu pula ia harus belajar memperbaiki iman, memperhalus akhlak, memperluas ilmu, dan memperbesar manfaat.
“Santri berilmu, negeri bermutu. Santri berakhlak, bangsa bermartabat. Santri berkemajuan, Indonesia berkeadaban.”
*) Romanto Pribadi, S.Pd.I, M.Pd adalah Alumni Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor, saat ini menjabat Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kendal
