KENDALMU.OR.ID – Pengalaman gagal menembus enam besar pada kompetisi sebelumnya tak menyurutkan langkah Grup Rebana Al Badar SDIT Muhammadiyah Truko, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal.
Berbekal prestasi dua kali juara pertama tingkat kabupaten, tim ini kembali bersiap menantang persaingan Lomba Mata Pelajaran Pendidikan Islam dan Seni (MAPSI) tingkat Provinsi Jawa Tengah di Kabupaten Purworejo, 12–13 November 2026. Kali ini, mereka membidik posisi tiga besar.
Target tersebut bukan sekadar ambisi. Persiapan dilakukan sejak jauh-jauh hari dengan mematangkan aransemen musik, meningkatkan kualitas vokal, serta membangun kekompakan dan penampilan di atas panggung.
Kepala SDIT Muhammadiyah Truko, M. Fajrishah, mengatakan pengembangan seni Islami menjadi bagian penting dalam pendidikan sekolah.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga harus memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat dan kreativitas.
“Harapannya, anak-anak tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu mengembangkan seni Islami. Prestasi rebana ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi sekolah,” ujarnya, Kamis (29/10/2026).
Fajrishah menjelaskan, Al Badar telah dua kali meraih juara pertama tingkat Kabupaten Kendal sehingga berhak mewakili daerah pada kompetisi tingkat provinsi.
Pada keikutsertaan sebelumnya di Kudus, tim belum berhasil menembus enam besar. Pengalaman itu menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas penampilan.
Pembina Grup Rebana Al Badar, Khairul Ummah, menuturkan persiapan kompetisi tingkat kabupaten membutuhkan waktu sekitar dua bulan.
Menjelang MAPSI tingkat provinsi, latihan dijadwalkan tiga kali sepekan dengan fokus pada penyempurnaan vokal dan aransemen musik.
“Penilaian tidak hanya pada musik, tetapi juga kualitas vokal dan penampilan. Karena itu, ketiganya harus dipersiapkan secara maksimal,” jelasnya.
Beranggotakan maksimal 11 siswa, Al Badar menyiapkan dua kategori penampilan, yakni rebana klasik dan modern.
Untuk kategori klasik, tim membawakan lagu wajib Malaikat Allah. Sementara kategori modern menyiapkan lagu pilihan Rahmatan Lil Alamin yang dipopulerkan Maher Zain.
Sekolah melibatkan dua pelatih untuk membina vokal dan musik. Namun, persiapan menuju tingkat provinsi juga menghadapi tantangan pembiayaan, terutama untuk kebutuhan pelatih dan kelengkapan alat musik.
Sekolah telah memiliki instrumen rebana, tetapi masih merencanakan pengadaan keyboard sebagai alat musik tambahan.
Selama kompetisi tingkat kabupaten, kebutuhan pembiayaan ditanggung sekolah tanpa membebani orang tua siswa. Ke depan, peluang kerja sama dengan orang tua terbuka untuk mendukung kebutuhan tim.
Meski persaingan tingkat provinsi dipastikan ketat, Al Badar tetap optimistis. Target tiga besar menjadi pemacu latihan, sekaligus kesempatan bagi siswa menambah pengalaman dan kepercayaan diri.
“Target kami bisa masuk tiga besar. Namun, yang terpenting anak-anak mendapat pengalaman, semakin percaya diri, dan mampu meningkatkan kualitas penampilan,” tegas Khairul.
Ia menambahkan, seni rebana juga menjadi media dakwah kultural yang terbuka bagi semua kalangan. Seni Islami perlu dikembangkan sebagai sarana pendidikan, kreativitas, dan syiar Islam tanpa dibatasi identitas organisasi. (fur)
