KENDALMU.OR.ID. Di tengah gencarnya kerusakan lingkungan yang makin nyata di mata, hadir sebuah karya yang membuka hati sekaligus akal: menjaga alam bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bagian dari penghayatan iman dan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Demikian pesan mendalam yang terangkum dalam buku “Ekoteologi Estetis:Membaca Seni dan Kelestarian Lingkungan dalam Perspektif Islam Berkemajuan”, karya bersama para penulis yang tergabung dalam Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Muhammadiyah Kendal — Unit Pembantu Pimpinan (UPP) yang memikul peran strategis sebagai pusat pengelolaan pustaka, penyebaran gagasan keilmuan, serta penyediaan informasi dinamika dan dokumentasi resmi Muhammadiyah.
Tak hanya berfungsi di lingkungan internal organisasi, MPI juga hadir sebagai jembatan intelektual yang menghadirkan bacaan bermutu bagi masyarakat luas. Melalui penerbitan buku-buku seperti ini, MPI terus menyebarluaskan nilai-nilai Islam Berkemajuan agar bermanfaat bagi kemajuan bersama.
Lebih dari itu, kehadiran buku ini kian kokoh dengan kata pengantar yang ditulis langsung oleh KH. Ikhsan Intizam, Lc., M.Ag, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kendal.
Dalam tulisannya yang penuh kebijaksanaan, beliau menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan adalah perwujudan nyata dari ajaran Islam yang menjunjung keseimbangan dan kemaslahatan.
Beliau pun mengapresiasi gagasan menghubungkan rasa estetis dengan tanggung jawab ekologis, sekaligus mengajak masyarakat menjadikan buku ini sebagai panduan hidup untuk mencintai dan merawat bumi sepenuh hati.
Dari tangan para penulis yang berdedikasi ini, lahirlah buku yang menjawab tantangan masa kini dengan pendekatan yang menyejukkan sekaligus menggerakkan hati. Buku ini merajut tiga hal yang sering dipandang terpisah: keindahan seni, kelestarian alam, dan kesucian ajaran agama, menjadi satu kesatuan pandang yang utuh.
“Keindahan yang terpancar dari karya seni maupun bentang alam ciptaan-Nya sama-sama mencerminkan kebesaran Allah. Maka, mencintai keindahan bukan sekadar menikmati pemandangan, melainkan menyadari amanah untuk menjaganya tetap lestari. Alam bukanlah benda bebas yang boleh dieksploitasi sesuka hati, melainkan titipan suci yang wajib dijaga keseimbangannya demi kehidupan generasi mendatang.”
Tegas dan menyentuh, kutipan tersebut menjadi napas utama buku ini. Mengusung perspektif Islam Berkemajuan, para penulis mengingatkan: rasa cinta pada keindahan harus berujung pada tindakan melestarikan.
Keindahan seni mengajak kita menghargai ciptaan tangan manusia, sedangkan keindahan alam mengingatkan kita pada kebesaran Tuhan. Keduanya mengandung satu pesan: merawat keindahan adalah bentuk ibadah.
Buku ini hadir tepat waktu — saat bumi makin berduka karena ulah tangan manusia. Dengan bahasa yang tegas namun memikat, ia mengajak pembaca berdiri bersama: menjaga lingkungan adalah menjaga amanah Tuhan, dan menghargai keindahan adalah wujud kesyukuran yang nyata. Sebuah panggilan lembut namun tegas, untuk mencintai, merawat, dan mewariskan bumi yang indah dan lestari kepada generasi mendatang. (fur)
