Oleh Abdul Ghofur *
Ketika sumur mengering, tanah merekah dan warga harus mengantre air bersih, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya kemampuan manusia bertahan dari kemarau.
Yang diuji adalah kesadaran kita: masihkah kita memandang air sebagai anugerah Tuhan, atau telah menganggapnya sekadar komoditas yang selalu tersedia kapan pun kita butuhkan?
Kemarau berkepanjangan datang tanpa mengetuk pintu. Ia perlahan mengeringkan sumber air, mengusik kehidupan petani, mengancam ternak, dan memaksa sebagian warga menggantungkan kebutuhan sehari-hari pada bantuan air bersih.
Di tengah situasi itu, manusia dipaksa berhenti sejenak dari kesibukannya dan menyadari satu kenyataan sederhana: kehidupan ternyata begitu rapuh ketika air menghilang.
Di sinilah kemarau semestinya dibaca lebih dalam. Ia bukan sekadar fenomena meteorologis yang cukup dijawab dengan data curah hujan. Kemarau juga dapat menjadi ruang perenungan teologis tentang hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama.
Sebab, boleh jadi yang sedang mengering bukan hanya mata air di dalam tanah, tetapi juga kesadaran manusia untuk mensyukuri nikmat, menjaga ciptaan, dan peduli kepada sesama.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat perbuatan manusia. Pesan tersebut memiliki relevansi kuat dengan persoalan lingkungan hari ini.
Eksploitasi sumber daya alam, berkurangnya kawasan resapan, kerusakan hutan, pencemaran air, hingga gaya hidup yang tidak berkelanjutan dapat memperbesar kerentanan manusia menghadapi perubahan iklim.
Kemarau juga mengajarkan tentang keterbatasan. Manusia dengan segala kemajuan teknologi tetap tidak mampu memerintahkan hujan turun sesuai kehendaknya.
Pada titik itu, manusia diingatkan untuk rendah hati, memperkuat ikhtiar sekaligus memperdalam doa.
Tetapi doa tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bertindak. Teologi yang sehat tidak mempertentangkan doa dengan ikhtiar.
Memohon hujan harus berjalan bersama upaya menjaga sumber air, menanam pohon, melindungi daerah resapan, menghemat penggunaan air, serta membantu masyarakat yang mengalami kesulitan.
Di sinilah kemarau menghadirkan pesan sosial yang penting. Kekeringan seharusnya membangkitkan solidaritas. Mereka yang memiliki akses air lebih baik mempunyai tanggung jawab membantu mereka yang kesulitan. Distribusi air bersih bukan hanya tindakan kemanusiaan, tetapi juga wujud nyata keberagamaan.
Pada akhirnya, kemarau panjang mengajarkan tiga hal sekaligus: kesadaran akan kebesaran Tuhan, tanggung jawab menjaga ciptaan, dan kepedulian terhadap sesama.
Hujan memang berada di luar kuasa manusia. Tetapi bagaimana manusia memperlakukan alam dan sesamanya berada dalam wilayah tanggung jawab manusia.
Karena itu, ketika kemarau berkepanjangan mengetuk pintu kehidupan, jangan hanya bertanya, kapan hujan turun? Lebih jauh, kita perlu bertanya: apa yang sedang Tuhan ajarkan kepada kita melalui kemarau ini?
Boleh jadi, kemarau bukan hanya menunggu hujan. Ia sedang menunggu manusia belajar kembali menghargai air, merawat bumi, dan menemukan kembali makna menjadi khalifah di muka bumi.
Abdul Ghofur adalah Ketua PC Muhammadiyah Ngampel, dan Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PD Muhammadiyah Kendal
