Cerpen Gofur Al Kendali
Azan Magrib baru saja menggema ketika tangis itu pecah—jernih, nyaring, dan entah mengapa terdengar seperti doa yang dikabulkan.
Suara itu memantul di dinding ruang bersalin sederhana, membuat lampu-lampu putih terasa lebih hangat dari biasanya.
Di luar, langit Ramadan menggantungkan senja yang lembut, seolah ikut menunduk khusyuk menyaksikan sebuah kehidupan dimulai.
Hajjah Maryam berdiri kaku di dekat pintu. Tasbih masih melingkar di jemarinya yang mulai keriput.
Sejak siang ia berpuasa dengan hati berdebar.
Bukan karena lapar atau dahaga, melainkan karena menunggu kabar yang akan mengubah panggilannya menjadi lebih mulia: nenek.
Hari itu hari ke-10 Ramadan—gerbang menuju sepuluh hari kedua sebelum tiba sepuluh malam terakhir yang penuh kemuliaan. Dan di senja yang syahdu itu, Allah menitipkan satu lagi cahaya kecil dalam keluarga Maryam.
Seorang perawat keluar dengan senyum lega.
“Bu Haji, cucunya perempuan. Sehat dan cantik.”
Maryam menutup mulutnya, menahan isak haru. Cucu pertama. Seorang bayi perempuan. Darah daging dari anak laki-lakinya yang dulu sering ia gandeng ke masjid saat tarawih, kepalanya terangguk-angguk menahan kantuk di pangkuannya.
Waktu benar-benar berjalan seperti bayang-bayang menjelang Magrib—cepat, tak terasa.
Maryam melangkah masuk perlahan. Menantunya terbaring lemah namun bahagia. Di dadanya, terbungkus kain putih bersih, seorang bayi mungil terpejam dengan napas teratur. Pipinya merah muda, bulu matanya lentik, jemarinya terbuka kecil seolah ingin meraih pelukan pertama dari dunia.
“Namanya sudah disiapkan, Bu?” tanya sang menantu pelan.
Maryam mengangguk, air matanya jatuh tanpa ia sadari.
“Rafifah Ramadhan,” jawabnya lirih. Rafifah—perempuan yang lembut dan bermartabat. Ramadhan—agar ia selalu ingat bahwa ia lahir di bulan ketika doa-doa melesat lebih cepat menuju langit.
Di musala rumah nanti, Maryam membayangkan suaminya akan mengazankan di telinga kanan bayi itu dan mengiqamatkan di telinga kirinya—seperti dulu almarhum ayahnya melakukan hal yang sama ketika Maryam melahirkan putra pertamanya. Lingkaran kehidupan terasa begitu utuh; generasi berganti, tetapi cinta dan iman tetap mengalir.
Malam itu, setelah berbuka dengan air putih dan sepotong kurma, Maryam sujud lebih lama dari biasanya. Ia sadar, Allah sedang memperpanjang jejak hidupnya lewat seorang bayi perempuan yang kini terlelap damai.
Cucu pertama di bulan Ramadan bukan sekadar kelahiran. Ia adalah amanah dan pengingat. Bahwa hidup harus terusmenanam kebaikan. Bahwa kelak, ketika Maryam tak lagi mampu melangkah ke masjid, mungkin suara lembut Rafifah-lah yang akan membaca ayat-ayat suci—sejernih tangis pertamanya di senja Ramadan itu.
Dan Ramadan tahun itu tak lagi sama. Ia menjadi lebih hangat, lebih penuh, dan jauh lebih bermakna.
