Cetpen Gofur Alkendali
Langit 1 Syawal pagi itu terasa lebih jernih dari biasanya. Embun masih setia menggantung di ujung daun, seolah enggan jatuh sebelum menyaksikan manusia saling memaafkan.
Di serambi rumah sederhana, Pak Rahman duduk termenung. Sarungnya sudah rapi, pecinya hitam mengilap, tapi hatinya belum sepenuhnya siap.
Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, pagi ini terasa lebih berat. Ada satu hal yang belum selesai.
Sudah tiga tahun ia tak berbicara dengan anak sulungnya, Arif.
Masalahnya sederhana, bahkan mungkin sepele bagi orang lain.
Arif memilih jalan hidup yang tak sejalan dengan harapan ayahnya.
Perdebatan kecil berubah menjadi luka panjang.
Kata-kata yang terlanjur terucap menjelma tembok tinggi yang sulit diruntuhkan.
Tak ada takbir yang mampu menembusnya.
Bahkan doa-doa malam terakhir Ramadan pun belum cukup meluluhkan gengsi keduanya.
“Pak, sudah waktunya ke lapangan,” ujar Bu Siti pelan, memecah lamunan.
Pak Rahman mengangguk. Ia berdiri, melangkah pelan, namun langkahnya terasa berat seperti memikul sesuatu yang tak kasatmata.
Lapangan desa dipenuhi lautan manusia. Semua mengenakan pakaian terbaik. Wajah-wajah berseri, pelukan hangat, dan ucapan maaf bersahutan.
“Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar…”
Takbir menggema, merambat hingga ke sudut-sudut hati yang paling sunyi.
Di tengah barisan jamaah, Pak Rahman tiba-tiba terpaku. Beberapa meter di depannya, berdiri seorang pemuda dengan baju koko putih dan peci sederhana.
Arif.
Waktu seakan berhenti. Suara takbir memudar. Yang tersisa hanya detak jantung yang beradu dengan kenangan.
Arif juga melihatnya.
Tatapan mereka bertemu—canggung, kaku, penuh ragu.
Namun ada sesuatu yang berbeda pagi ini. Tidak ada amarah.
Tidak ada ego yang mengeras. Hanya kerinduan yang selama ini dipendam diam-diam.
Shalat dimulai.
Dalam setiap sujud, Pak Rahman tak lagi meminta banyak hal. Hanya satu:
“Ya Allah, lembutkan hatiku… dan hatinya.”
Usai khatib menyampaikan khutbahnya jamaah saling bersalaman. Tangan bertaut, air mata jatuh tanpa malu.
Pak Rahman berdiri di tempatnya. Ia melihat Arif ragu-ragu melangkah. Maju, lalu berhenti. Mendekat, lalu menunduk.
Hingga akhirnya…
“Pak…”
Suara itu pelan, nyaris hilang tertelan riuh.
Namun cukup untuk meruntuhkan segala tembok yang selama ini berdiri.
Pak Rahman menoleh. Matanya berkaca-kaca.
Arif menunduk, suaranya bergetar, “Maafkan Arif, Pak…”
Tak ada pidato panjang. Tak ada penjelasan. Hanya kalimat sederhana yang selama tiga tahun tertahan.
Pak Rahman menarik napas panjang. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia merangkul anaknya erat.
Erat sekali.
Seolah takut kehilangan lagi.
“Bapak yang salah…” bisiknya lirih.
Tangis pecah. Di tengah lapangan, di antara ribuan manusia yang juga saling memaafkan, dua hati yang lama terpisah akhirnya kembali bertemu.Pagi itu, 1 Syawal benar-benar menjadi hari kemenangan.
Bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tapi tentang menundukkan ego, merobohkan gengsi, dan memeluk kembali mereka yang pernah kita lepaskan.
Dan di bawah langit yang jernih, Pak Rahman akhirnya mengerti—
Kadang, yang paling sulit untuk dimaafkan bukanlah orang lain… melainkan diri sendiri yang terlalu lama menunda untuk berkata, “maaf.”
Dagung, 5/10/1447 H (23/3/2026 M)
