Oleh Abdul Malik
Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa bagi umat Islam. Di dalamnya, umat muslim menjalankan ibadah puasa yang dalam bahasa Arab disebut shaum.
Secara makna, kata ramadhan juga berkaitan dengan panas atau membakar.
Dalam pengertian spiritual, puasa ibarat api yang membakar dosa-dosa manusia.
Selama sebulan penuh, seorang muslim menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu dengan harapan agar dosa-dosa yang melekat dalam dirinya ikut hangus terbakar oleh ibadah yang dijalankannya.
Namun sebagaimana api yang membutuhkan bahan bakar agar tetap menyala, puasa juga memerlukan amalan-amalan yang menguatkannya.
Ramadhan menyediakan banyak “bahan bakar” untuk membakar dosa.
Sabar menjadi yang utama, karena puasa pada hakikatnya adalah latihan kesabaran: sabar menahan diri, sabar menjaga lisan, dan sabar dalam menghadapi berbagai ujian.
Selain itu, sholat malam atau qiyamul lail menjadi penguat spiritual yang menambah kedekatan seorang hamba kepada Allah.
Tadarus Al-Qur’an memperhalus hati dan menenangkan jiwa, sementara infaq dan sedekah menjadi sarana membersihkan harta sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial.
Semua amalan itu, jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, akan menjadi bahan bakar yang membuat “api puasa” semakin kuat membakar dosa-dosa manusia.
Ketika Ramadhan berakhir dan Idul Fitri tiba, seharusnya seorang muslim keluar dari bulan suci dengan keadaan yang lebih bersih.
Namun sangat disayangkan apabila amalan yang telah terkumpul selama sebulan justru menguap begitu saja karena perkara yang sebenarnya bisa dihindari.
Salah satu yang kerap terjadi adalah saling mencaci, memperdebatkan, bahkan menggunjing terkait perbedaan penentuan waktu hari raya.
Perbedaan metode penentuan awal Syawal memang telah lama terjadi dan menjadi bagian dari dinamika umat.
Akan tetapi, jika perbedaan itu justru melahirkan caci maki, sindiran, dan ghibah, maka nilai-nilai Ramadhan yang telah dibangun selama sebulan menjadi ternodai.
Bukankah menjaga lisan adalah salah satu inti dari puasa itu sendiri?
Di sisi lain, ada fenomena yang juga mulai marak dan patut menjadi perhatian pada perayaan Idul Fitri belakangan ini, yaitu tradisi takbiran yang menggunakan sound horeg.
Suara yang sangat keras dengan irama yang lebih menyerupai hiburan jalanan terkadang membuat gema takbir kehilangan kekhidmatannya.
Tak jarang pula kegiatan tersebut disertai dengan hal-hal yang menjauh dari nilai-nilai syariat.
Padahal takbiran sejatinya adalah ungkapan syukur dan pengagungan kepada Allah atas selesainya ibadah Ramadhan.
Jika cara merayakannya justru mengarah pada hal yang kurang sesuai dengan nilai-nilai Islam, maka sudah semestinya fenomena ini menjadi bahan renungan bersama.
Dalam hal ini, peran pemerintah, organisasi kemasyarakatan Islam, dan para tokoh agama menjadi sangat penting.
Mereka perlu memikirkan bagaimana cara mengarahkan kegembiraan umat dalam merayakan hari kemenangan agar tetap berada di jalan yang lurus sesuai dengan tuntunan syariat.
Kegembiraan tentu tidak dilarang dalam Islam, tetapi perlu disalurkan dalam bentuk yang lebih bermakna, edukatif, dan tetap menjaga nilai-nilai religius.
Salah satu contoh yang dapat menjadi rujukan adalah acara Parade Gema Takbir Jogja yang diselenggarakan oleh Masjid Gede Kauman Yogyakarta.
Kegiatan tersebut menghadirkan kemeriahan takbiran dalam bentuk pawai yang tertib, kreatif, dan tetap sarat dengan nuansa dakwah.
Masyarakat dapat bergembira, tetapi gema takbir tetap menjadi pusat perhatian.
Model seperti ini menunjukkan bahwa perayaan Idul Fitri dapat dikemas secara meriah tanpa harus meninggalkan nilai-nilai syariat.
Ke depan, tentu masih banyak kemungkinan model kegiatan lain yang lebih kreatif dan mendidik.
Festival takbir, lomba seni Islami, pawai obor, atau kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat bisa menjadi alternatif untuk memeriahkan malam Idul Fitri dengan cara yang lebih positif.
Pada akhirnya, Idul Fitri bukan sekadar hari raya yang dirayakan dengan kegembiraan lahiriah.
Ia adalah momentum kembali kepada kesucian setelah sebulan penuh menjalani proses pembakaran dosa melalui puasa dan berbagai amalan.
Oleh karena itu, bara Ramadhan yang telah menyala selama sebulan hendaknya tidak padam hanya karena lisan yang tak terjaga atau perayaan yang melenceng dari nilai-nilai syariat.
Justru di hari kemenangan inilah umat Islam diharapkan mampu menjaga kemurnian hati, mempererat persaudaraan, dan menyalurkan kegembiraan dalam bentuk yang membawa keberkahan bagi semua.
Abdul Malik, S.Pd Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kendal, dan Guru SD Muhammadiyah Weleri
