SUKOREJO.KENDALMU.OR.ID — Ribuan jamaah memadati Lapangan Futsal SMA Negeri 1 Sukorejo, Jalan Banaran, Sukorejo, Kendal, pada Jumat pagi,(20/3/ 2026), untuk menunaikan Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H.
Kegiatan yang dimulai pukul 06.00 WIB ini berlangsung dengan khidmat dan lancar atas sinergi PHBI Sukorejo, PCM Sukorejo, SMA Negeri 1 Sukorejo, serta berbagai elemen ortom dan masyarakat Muhammadiyah di Sukorejo.
Bertindak sebagai imam, alumni Ponpes Lukmanul Hakim Magelang, Ustadz Faiz Izzudin.
Sedangkan khutbah Idul Fitri disampaikan oleh Wakil Ketua PDM Kendal, KH KH. Farchan Tontowi.
Dalam khutbahnya, ia mengingatkan bahwa manusia sering kali keliru dalam memahami apa yang sesungguhnya paling dibutuhkan dalam hidup.
“Banyak orang mengira kebutuhan utama hanyalah urusan dunia: sandang, pangan, pekerjaan, serta harta yang dicari dengan membanting tulang dan memeras keringat,” katanya di hadapan ribuan jamaah.
Menurut Ustadz Farchan, semua itu akan terpisah dari manusia saat ajal menjemput.
Ia menegaskan, yang paling dibutuhkan seorang hamba bukanlah kekayaan, melainkan rahmat dan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Tanpa rahmat dan ampunan-Nya, sebanyak apa pun harta yang dimiliki tidak akan mampu menyelamatkan manusia,” tegasnya.
Dalam konteks itu, khatib menyinggung kisah Qarun, sosok yang begitu kaya namun tenggelam dalam kesombongan karena menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya.
“Kekayaan Qorun tidak menyelamatkannya, bahkan justru menjadi sebab kehinaannya ketika Allah menenggelamkannya ke dalam bumi, ” ujarnya.

Ustadz Farchan mengingatkan, bahwa Allah Maha Mengetahui hakikat penciptaan manusia, kelemahannya, kecenderungannya kepada dunia, sekaligus jalan untuk membersihkan dirinya.
“Sejak kisah Nabi Adam dan Hawa ‘alaihimassalam, Allah telah mengajarkan bahwa ketika manusia terjatuh dalam kesalahan, maka jalan kembali adalah dengan taubat dan permohonan ampun,” pesanya dengan menyitir doa yang sangat masyhur dalam Al quran Surat Al A’raf ayat 23
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”
Di bagian lain, Ustadz Farchan mengatakan, Ramadan boleh saja berlalu, tetapi rahmat dan ampunan Allah jangan sampai ikut berlalu dari hati dan kehidupan kita.
“Sungguh merugi seorang hamba yang didatangi Ramadan, namun tidak mendapatkan ampunan dari Allah,” tegasnya.
Menurutnya, hal ini sejalan dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Jibril berdoa, “Celakalah seorang hamba yang mendapati Ramadan lalu Ramadan berlalu sebelum dosanya diampuni,” lalu Nabi menjawab, “Aamiin.”
Ustadz Farchan, berpesan Islam untuk tetap membawa semangat Ramadan: semangat taubat, penghambaan, dan harapan akan kasih sayang Allah. Ramadan memang telah berlalu, namun nilai-nilai yang ditanamkannya tidak boleh ikut hilang.
“Justru selepas Ramadan, setiap Muslim dituntut untuk terus menjaga hati yang lembut, memperbanyak istighfar, memperkuat ibadah, dan menumbuhkan harapan akan rahmat Allah dalam setiap langkah kehidupan,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya saling mendoakan dengan ucapan yang hidup di tengah tradisi kaum muslimin:
تَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
“Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan amal ibadah kalian.”
Menurutnya, ucapan tersebut bukan sekadar tradisi lisan, tetapi mengandung doa yang mendalam agar seluruh amal, puasa, qiyam, zakat, dan ibadah selama Ramadan benar-benar diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Lebih lanjut, jamaah diajak untuk terus menaruh harapan kepada Allah, Dzat Yang Maha Dekat dan Maha Mengabulkan doa. Sebagaimana firman-Nya:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
Melalui ayat ini, khatib mengajak jamaah agar tidak pernah putus berharap kepada Allah.
“Semoga dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, kita semua dipertemukan kembali dengan Ramadan yang akan datang dalam keadaan lebih baik, lebih bersih, dan lebih dekat kepada-Nya,” pungkasnya. (silo)
