YOGYAKARTA, KENDALMU.OR.ID – Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) periode 2026–2028 resmi dikukuhkan.
Prosesi pelantikan berlangsung di Amphitarium lantai 9 Gedung KH Ahmad Dahlan, Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (12/4/2026), dengan dihadiri jajaran pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah hingga kader IPM dari seluruh Indonesia.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, bersama sejumlah pimpinan pusat, Ketua PP ‘Aisyiyah, rektor PTMA se-DIY, serta perwakilan organisasi otonom turut menyaksikan momentum penting regenerasi kepemimpinan pelajar Muhammadiyah tersebut.
Pada periode ini, kepemimpinan PP IPM dinakhodai Dany Rahmat Muharram sebagai Ketua Umum.
Ia didampingi Tsabita Ikrima Al Arify sebagai Sekretaris Jenderal dan Rizki Anugrah Robby sebagai Bendahara Umum, bersama total 87 pengurus yang akan menjalankan roda organisasi.
Dany menegaskan, kepengurusan baru siap membawa IPM melangkah lebih progresif dengan memperkuat peran pelajar dalam menjawab tantangan zaman.
“IPM harus hadir sebagai gerakan pelajar yang relevan, progresif, dan berdampak luas bagi umat dan bangsa,” tegasnya.
Struktur kepengurusan periode ini mencakup berbagai bidang strategis, mulai dari organisasi, perkaderan, kajian dakwah Islam, pengkajian ilmu pengetahuan, seni budaya, hingga pengembangan prestasi keolahragaan.
Selain itu, terdapat pula bidang advokasi dan kebijakan publik, ekonomi kreatif, pengarusutamaan gender, hubungan kerja sama internasional, lingkungan hidup, kesehatan, serta teknologi informasi.
Masing-masing bidang diisi kader-kader muda dari berbagai daerah yang diharapkan mampu mengakselerasi program kerja dan memperluas jejaring gerakan IPM di tingkat nasional maupun global.

Pelantikan ini menjadi titik awal konsolidasi besar IPM untuk memperkuat peran sebagai organisasi pelajar yang tidak hanya fokus pada kaderisasi, tetapi juga aktif dalam isu-isu strategis seperti pendidikan, lingkungan, kesehatan, hingga transformasi digital.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan kader IPM merupakan kader inti persyarikatan.
Pengalaman di IPM membentuk kita memahami Muhammadiyah sebagai tempat dan induk gerakan,” ujarnya.
Ia menekankan, kader IPM harus unggul dalam kemuhammadiyahan dengan mengedepankan ilmu dan kecerdasan.
Haedar juga mendorong kader menjadi ulil albab, yakni pribadi yang terbuka pada berbagai pandangan, mengkajinya secara mendalam, dan berlandaskan nilai.
Menurutnya, nilai adalah hal paling berharga dalam hidup yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah.
Karena itu, keduanya tidak boleh hanya menjadi wahyu normatif, tetapi harus dipahami secara luas dan mendalam melalui ilmu.
Dengan formasi kepengurusan yang solid, PP IPM periode 2026–2028 diharapkan mampu menghadirkan gerakan pelajar yang adaptif, inovatif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam berkemajuan
