SURABAYA.KENDALMU.OR.ID. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. DR H Dadang Kahmad, M.Si menegaskan pentingnya menjadikan Muhammadiyah sebagai ruang silaturahmi yang memperkuat ikatan sosial, menumbuhkan amal shaleh, dan menyuarakan etika digital di tengah tantangan zaman.
Hal itu disampaikannya dalam Kajian Sang Pencerah yang digelar di Semampir, Surabaya, Ahad (25/5/2025).
“Silaturahmi itu memperpanjang umur dan memperbanyak rezeki,” ujar Prof Dadang, seraya mengutip hasil penelitian Julianne Holt-Lunstad yang menyatakan bahwa hubungan sosial yang erat berdampak positif terhadap kesehatan dan umur panjang.
Pernyataan itu juga diperkuat oleh sabda Nabi Muhammad SAW: “Siapa yang ingin panjang umur dan luas rezekinya, maka perbanyaklah silaturahmi.”
Bagi Prof Dadang, Muhammadiyah adalah wadah yang sangat efektif untuk menjalin silaturahmi sekaligus beramal shaleh bersama.
“Kita di Muhammadiyah tidak hanya berorganisasi, tapi juga berjuang dalam satu barisan yang kokoh, sebagaimana dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaff: bunyanun marsus, bangunan yang tersusun rapi,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kekuatan Muhammadiyah hingga bisa bertahan lebih dari satu abad tak lepas dari pondasi amal shaleh yang bermanfaat bagi umat.
“Selama kita masih memberi manfaat, insya Allah kita belum akan dipanggil oleh Allah,” tuturnya penuh makna.
Dalam kesempatan itu, Prof Dadang juga menyoroti isu-isu strategis yang diangkat pada Muktamar ke-48, di antaranya keprihatinan terhadap kondisi umat, bangsa, dan kemanusiaan global.
Salah satu isu penting yang dibahas adalah kesalehan digital dan tantangan keberagamaan generasi milenial.
“Sejak internet masuk ke Indonesia sekitar tahun 1990-an, terjadi perubahan radikal dalam interaksi sosial. Silaturahmi makin renggang, kebohongan meluas, budaya saling menghina dan membully semakin merajalela,” jelasnya.

Hasil penelitian Microsoft pun menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat kesopanan digital yang rendah.
“Dari 32 negara yang disurvei, Indonesia berada di peringkat ke-29 dalam hal kesopanan bermedia sosial,” ungkap Prof Dadang.
Ia menyebut lima faktor utama penyebab buruknya etika digital, yaitu: motivasi komersial, sensasi negatif yang dijadikan konten, persaingan tidak sehat antarproduk, eksploitasi kemiskinan untuk konten viral, hingga penyebaran ideologi menyimpang seperti sekularisme, pluralisme ekstrem, hingga LGBT.
Lebih memprihatinkan, muncul pula paham-paham menyimpang yang disebar lewat media sosial, termasuk aliran menyimpang seperti ‘kasih bersaudara’ yang melegalkan hubungan bebas antar saudara sedarah.
Menghadapi situasi ini, Prof Dadang mengingatkan warga Muhammadiyah, khususnya generasi muda, agar bijak bermedia sosial.
“Saya tidak melarang bermedsos. Tapi peganglah tiga prinsip: sampaikan yang baik, yang benar, dan yang bermanfaat,” pesannya.
Di tengah derasnya arus digital dan perubahan sosial, Prof Dadang mengajak warga Muhammadiyah untuk terus memperkuat silaturahmi, memperbanyak amal, dan menjaga etika—baik di dunia nyata maupun dunia maya.
