Cerpen : HM Tibyani
Awan, atas nama pemuda kampung menyerahkan proposal Baitul Arqom Dasar Pemuda Muhammadiyah kepada sang bapak, titipan dari panitia.
Sang bapak membuka lembar demi lembar dengan mata yang tenang, hati yang bijak, menyisir setiap angka dan kata.
Tidak ada kata “sponsor” yang menekan, tidak ada nominal yang menuntut. Hanya terukir sederhana:
“Kami berharap dukungan dari semua pihak.”
Bagi bapaknya Awan, proposal bukanlah hal baru. Tiga puluh tahun silam, ia telah meniti jalan yang sama—dari kurir yang membawa pesan, collector yang menagih janji, hingga inisiator yang menyalakan mimpi.
Kini, senyum tipis menghiasi wajahnya, anggukan kepala mengikuti tarikan napas panjang, menimbang seberapa pantas hati ini memberi.
Ibu Awan memecah kesunyian dengan lembut, “Mengapa dimemper-memperkan, Pak? Yang penting ikhlas. Sedikit tapi ikhlas lebih berharga daripada banyak tapi tak tulus.”
Kata-kata itu bagai embun yang menyejukkan pagi, meresap ke dalam hati. Bapak Awan tersenyum penuh pengertian.
Ia berjanji akan menengok lokasi, menyaksikan anak-anaknya dan adik mereka yang masih remaja, belajar, tumbuh, dan berdiri dengan keberanian sendiri.
Sabtu malam menjelang Ahad, mobil menembus gelap yang lembut. Jalan antar desa menuntun mereka melewati sawah luas, tambak-tambak ikan, hutan bakau yang membisu.
Hanya lampu PLN sesekali menyapa, menandai bahwa kehidupan tetap ada di dunia yang sunyi ini.
Di ujung perjalanan, pantai menyambut mereka dengan lengkungan emas pasir dan suara deburan ombak yang menenangkan.
Gapura besar bertuliskan PMK menjulang, dan bapak Awan, polos, bertanya, “Apakah itu Pantai Muhammadiyah Kendal?”
Komandan Kokam tersenyum, “Benar, Pak… tapi besok akan diganti nama.” Driver menimpali riang, “Sebenarnya, itu singkatan Pantai Muara Kencana.”
Di tengah pantai, rumah joglo tanpa dinding berdiri anggun sebagai aula, sementara tenda-tenda putih siap menampung peserta.
Logistik tersusun rapi, makanan dan minuman melimpah, menghadirkan kenyamanan di tengah kesunyian alam yang begitu damai.
Bapak Awan menatap cakrawala yang memerah di ufuk barat, membayangkan anak-anak muda yang berani memilih kesunyian untuk berkontemplasi dan belajar.
Fokus mereka tak terganggu, hati mereka penuh pengabdian. Para orang tua, dengan segala kesibukan mereka, pun bersedia hadir, menundukkan ego demi semangat generasi muda yang membara.
Di pantai yang sunyi itu, di antara bisikan ombak dan desau angin, semangat anak-anak muda menyala, membentuk harmoni yang indah antara keberanian, pengorbanan, dan ikhlas.
Sebuah kisah yang tak hanya mengisi halaman proposal, tetapi juga menorehkan jejak di hati setiap orang yang menyaksikannya.
Truko, 23/11/2025
HM. Tibyani, S.Pd adalah Guru SMK N 2 Kendal dan juga Kontributor kendalmu.or.id, tinggal di Truko, Kec. Kangkung, Kab. Kendal.
