HONGKONG.KENDALMU.OR.ID. Komitmen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam pengabdian kepada masyarakat kembali dibuktikan melalui kerja sama internasional.
Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UMS menjalin sinergi dengan komunitas PMI (Pekerja Migran Indonesia) di Hong Kong dalam sebuah kegiatan community service bertajuk “Edukasi dan Peningkatan Keterampilan Pencegahan serta Pengelolaan Hipertensi dan Diabetes Melitus”.
Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap isu kesehatan yang kerap menimpa para pekerja migran, khususnya perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga di tanah air.
Tingginya tekanan kerja, pola makan tidak teratur, serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, membuat buruh migran rentan terhadap penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes melitus.
Melalui kegiatan ini, tim dosen dan mahasiswa Keperawatan UMS memberikan edukasi menyeluruh tentang gaya hidup sehat, pentingnya deteksi dini, serta keterampilan mandiri dalam memantau tekanan darah dan kadar gula darah.
Materi disampaikan secara interaktif dalam bentuk pelatihan, diskusi kelompok, hingga simulasi penggunaan alat kesehatan sederhana.

Sekprodi Internasional Program Studi Keperawatan UMS, Siti Arifah, P.hD menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya memberi pengetahuan, tetapi juga memberdayakan para PMI untuk menjadi agen perubahan bagi sesama.
“Kami ingin para buruh migran tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menularkan pengetahuan dan keterampilan ini kepada rekan-rekannya. Pemberdayaan adalah kunci untuk membangun ketahanan kesehatan komunitas,” kata Arifah, Ahad (27/7/2025) di kantor Equal Opportunities Commission (EOC) Wong Chuck Hang Hongkong.
EOC merupakan Komisi Kesempatan yang Sama, atau badan publik yang bertugas menangani diskriminasi dan mempromosikan kesetaraan berdasarkan berbagai kriteria seperti jenis kelamin, status perkawinan, kehamilan, menyusui, disabilitas, status keluarga, dan ras puluhan peserta mengikuti kegiatan ini dengan semangat dan penuh rasa ingin tahu.
Sementara itu Corporate Trainer dan Motivational Speaker, Devi Novianti, SH. LLM. HR menegaskan bahwa pekerja yang mengalami sakit memiliki perlindungan hukum yang kuat, terutama dalam kerangka Undang-Undang Anti Diskriminasi.
Menurut Devi, UU Anti Diskriminasi melindungi setiap individu dari perlakuan tidak adil berdasarkan kondisi kesehatan, termasuk mereka yang menderita penyakit jangka panjang atau penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes.

“Sakit bukanlah alasan untuk mendiskriminasi seseorang di tempat kerja. Justru dalam konteks hukum ketenagakerjaan modern dan prinsip-prinsip non-diskriminasi, setiap pekerja yang mengalami sakit berhak atas perlindungan, akomodasi yang layak, dan kesempatan yang setara,” ujar Devi.
Ia menjelaskan bahwa dalam banyak yurisdiksi, termasuk negara-negara yang memiliki UU Anti Diskriminasi yang progresif, pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), penurunan jabatan, atau perlakuan tidak adil hanya karena kondisi medis karyawannya.
Lebih lanjut, Devi menekankan pentingnya akses terhadap akomodasi yang layak di tempat kerja, seperti penyesuaian jam kerja, beban kerja yang lebih fleksibel, atau dukungan medis yang memadai, agar pekerja tetap produktif tanpa merasa terancam.
“UU Anti Diskriminasi tidak hanya bicara soal ras, gender, atau agama, tapi juga mencakup kondisi kesehatan. Jadi, bila seorang pekerja sakit lalu diperlakukan berbeda atau diberhentikan karena alasan tersebut, itu adalah bentuk diskriminasi yang bisa ditindak secara hukum,” tegasnya.
Sebagai praktisi hukum yang juga berpengalaman dalam bidang pengembangan SDM, Devi mendorong perusahaan untuk tidak sekadar patuh pada regulasi, tetapi juga membangun budaya kerja yang inklusif dan penuh empati.
“Budaya perusahaan yang sehat adalah yang melindungi, bukan mengucilkan. Memberi ruang bagi pekerja yang sedang sakit untuk pulih dan tetap dihargai perannya, adalah investasi jangka panjang dalam loyalitas dan produktivitas.”
Salah satu peserta, Sri Nasiati Umaroh, mengaku selama ini mereka jarang sekali mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan dengan cara yang mudah dipahami.

“Senang sekali bisa belajar langsung dari dosen dan mahasiswa UMS,’ ungkapnya. Sri telah bekerja di Hong Kong selama delapan tahun.”
Sri Nasiati Umaroh berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai di sini. Ia ingin edukasi kesehatan bagi para Pekerja Migran Indonesia terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak rekan-rekannya di Hong Kong.
“Semoga ke depan bisa diadakan lagi, bahkan rutin. Karena banyak dari kami yang masih butuh pengetahuan soal cara menjaga kesehatan, apalagi yang sudah bertahun-tahun bekerja di luar negeri,” harapnya.
Bagi Sri, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, tetapi juga bentuk kepedulian yang sangat berarti di tengah keterbatasan akses informasi dan layanan kesehatan yang mereka hadapi.
Kerja sama ini juga menjadi bagian dari misi internasionalisasi UMS dalam bidang pendidikan dan pengabdian. Selain memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, kegiatan ini membuka ruang kolaborasi global yang berdampak jangka panjang.
Kegiatan ditutup dengan pembagian alat pemantau tekanan darah digital untuk komunitas PMI, sebagai bentuk dukungan berkelanjutan terhadap upaya pemantauan kesehatan mandiri.
Dengan semangat Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah, Prodi Keperawatan UMS terus meneguhkan peran sebagai motor perubahan — bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di panggung global.(sri)
Kontributor Hongkong : Sri Nasiati Umaroh. Editor : Abdul Ghofur
