BANDUNGAN.KENDALMU.OR.ID. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Prof. Zakiyuddin Baidhawy, menyerukan pentingnya meneguhkan kembali spirit hijrah sebagai landasan perubahan dan pembaruan gerakan umat.
Meskipun bulan Muharram 1447 H telah berlalu, menurutnya, semangat dan pelajaran dari peristiwa hijrah harus tetap dihidupkan, karena Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender hijriyah erat kaitannya dengan transformasi sejarah dua nabi besar: Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW.
Hal tersebut disampaikan Prof. Zakiyuddin saat membuka Musyawarah Pimpinan Daerah (Musypimda) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kendal, Sabtu sore (26/7/2025) di sebuah hotel di kawasan Bandungan, Kabupaten Semarang.

Acara strategis ini dihadiri sekitar 150 peserta dari berbagai unsur Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kendal, perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah se Kab. Kendal, Unsur Pembantu Pimpinan (UPP), dan ortom Muhammadiyah Daerah Kendal.
Dalam pidatonya yang menggugah, Prof. Zakiyuddin mengajak para peserta menengok kembali dua peristiwa hijrah yang monumental dalam sejarah Islam—hijrahnya Nabi Ibrahim sebagai bapak para nabi, dan hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para rasul.
“Dari segi jarak dan waktu, kita bisa melihat perbedaan yang mencolok,” jelasnya. “Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Thaif lalu ke Madinah Al-Munawwarah menempuh sekitar 450–500 kilometer dalam waktu kurang lebih 16 hari. Tapi Nabi Ibrahim, setelah diselamatkan dari pembakaran Raja Namrud, hijrah dari selatan Turki ke Palestina sejauh 2.000 kilometer, selama lebih dari satu tahun, sekitar 420 hari.”
Perjalanan Nabi Ibrahim bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perjalanan spiritual yang sarat makna—meninggalkan tirani menuju kemerdekaan tauhid.

Ia berdakwah di tengah masyarakat penyembah berhala, termasuk ayahnya sendiri, dan ditentang keras oleh Raja Namrud yang mengaku sebagai tuhan. Namun, setelah mukjizat api tak membakarnya, Ibrahim diperintahkan Allah untuk hijrah, menelusuri padang tandus, gurun berbatu, dan menghadapi kesepian yang panjang demi mempertahankan akidah.
“Hijrah bukan hanya berpindah fisik,” tegas Prof. Zakiyuddin, “tetapi juga berpindah cara pandang, sikap, dan orientasi hidup. Ini momentum untuk berhijrah dari rutinitas ke inovasi, dari stagnasi ke gerak dinamis, dari kebiasaan lama ke peradaban baru.”
Ia menambahkan, hijrah adalah jalan para nabi, jalan yang penuh ujian, tetapi juga jalan yang diberkahi.
Dalam Al-Qur’an, perintah untuk ‘berjalan’ sangat banyak: fantashiruu fil-ardh, siiruu fil-ardh, fadribuu fil-ardh, famsyuu fii manakibihaa—semuanya adalah bentuk dorongan hijrah, baik fisik maupun spiritual.
“Orang yang hijrah di jalan Allah dijanjikan Allah rezeki dan kelapangan hidup,” ujarnya sambil mengutip QS. An-Nisa: 100. “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya dia akan mendapatkan di bumi tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.”
Dalam konteks gerakan Muhammadiyah, Prof. Zakiyuddin menekankan pentingnya mewujudkan masyarakat munawwarah, masyarakat yang tercerahkan sesuai simbol matahari dalam logo Muhammadiyah. Maka hijrah harus dilakukan dalam tiga dimensi: fisik, spiritual, dan fikriyah (pemikiran).

Muhammadiyah, menurutnya, perlu melakukan hijrah fikriyah, yakni pembaruan cara berpikir umat Islam dalam memahami ajaran secara lebih ilmiah dan rasional.
Dalam hal ini, Muhammadiyah telah menunjukkan langkah konkret, yakni pembenahan arah kiblat berbasis teknologi modern, bukan sekadar warisan arah bangunan lama, dan pengembangan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang disusun dengan metode hisab hakiki kontemporer, bukan hanya rukyat lokal yang memecah kesatuan umat.
“Umat Islam itu satu Tuhan, satu Rasul, satu kitab, dan satu kiblat. Maka sudah seharusnya kita memiliki satu kalender. KHGT adalah wujud nyata hijrah fikriyah menuju persatuan global,” ujarnya penuh penekanan.
Hijrah spiritual, lanjutnya, kini menjadi lebih menantang di era teknologi abad 21. Manusia bukan hanya dituntut menyesuaikan teknologi, tetapi juga harus tetap menjaga keikhlasan dan ketundukan kepada Allah di tengah godaan dunia modern—termasuk dalam hal makanan, gaya hidup, dan orientasi hidup yang makin materialistik.
Karena itu, dalam forum Musypimda ini, ia mengajak seluruh kader Muhammadiyah untuk menjadikan semangat hijrah sebagai energi pembaruan. Pembaruan cara berpikir, pembaruan sikap dakwah, dan pembaruan gerakan sosial.
“Hijrah adalah panggilan perubahan. Dan Muhammadiyah harus menjadi pelopor perubahan ke arah yang lebih baik—bukan sekadar sebagai simbol, tapi sebagai gerakan yang memberi cahaya,” pungkasnya. (fur)
