Cerpen HM. Tibyani
Tidak seperti biasanya, Sastro—yang selama ini terkenal malas jika diajak istrinya berkunjung ke rumah mertua—pagi itu justru lebih dulu mengajak pergi. Ada sesuatu di wajahnya: teduh, agak murung, seperti seseorang yang sedang menata rindu lama.
Sudah lima belas tahun ibunya berpulang. Sejak itu, Sastro tak pernah menjadi peziarah setia. Ia bukan tipe yang rajin datang ke makam setiap pekan atau bulan. Ia bahkan sering berkelakar sebagai “kader inthilan sejati”: datang ke kuburan hanya bila ada orang wafat yang akan dimakamkan.
Setahun sekali menjelang Idulfitri pun sudah dianggap pencapaian besar, sekadar mengikuti kelaziman orang kampung agar tetap tampak “berjiwa manusia”.
Namun sesungguhnya, Sastro tak pernah benar-benar lupa. Nama ibu dan bapaknya selalu hadir dalam doa—lima kali sehari, setiap selesai salat. Ia percaya pada petuah Abdul, tokoh kampung yang juga pengisi kultum Ramadan, penggemar berat Arsenal yang ucapannya sering terasa seperti dalil hidup.
“Kebaktian anak itu bukan diukur dari sering tidaknya ziarah,” kata Abdul suatu kali. “Bukan pula dari banyaknya bunga di atas makam. Doa yang tak putus itulah yang sampai.”
Sastro mengangguk, menyimpan kalimat itu rapat-rapat di dadanya.
Pagi itu, ia mendekati Siti, istrinya, dengan nada ringan.
“Ke rumah ibu, yuk.”
Siti menoleh heran. Tawaran semacam itu jarang sekali datang. Dengan setengah menggoda ia bertanya, “Mau bawain apa?”
“Gemblong,” jawab Sastro mantap.
“Hanya itu?” Siti menyipitkan mata.
“Tambah tahu sama mendoan,” sahutnya cepat, sedikit bangga. “Yang di Pasar Maulana. Itu, lho, yang sudah terkenal dari zaman simbah.”
Siti tersenyum kecil, tapi hatinya justru dipenuhi tanya. Ada yang berbeda dari suaminya hari ini. Biasanya cuek, tak banyak inisiatif, apalagi soal kunjungan keluarga. Ia ingin bertanya, tapi gengsi. Tak bertanya pun malah membuat dadanya penuh rasa penasaran.
Akhirnya, dengan suara pelan dan agak kikuk, ia memberanikan diri.
“Memangnya… ada apa tiba-tiba mau ke ibu?”
Sastro menarik napas panjang, seolah menata kata agar tak jatuh sembarangan. Wajahnya mendadak serius, teduh, seperti mendung yang belum jadi hujan.
“Ibumu itu… ibuku juga, kan?” katanya pelan. “Ibuku sudah lima belas tahun nggak ada. Yang bisa kulakukan cuma mendoakan. Kalau kita berbuat baik pada ibu yang masih hidup, semoga beliau mendoakan kita juga, tanpa diminta.”
Siti tercekat. Dadanya terasa hangat dan sesak sekaligus.
Sastro melanjutkan, suaranya kian lirih, “Hari ini Hari Ibu. Mungkin ibu tidak menunggu dirayakan. Tapi kalau kita sudah ingat, jangan pura-pura lupa.”
Kata-kata itu jatuh perlahan, tapi menghunjam. Siti menunduk, menahan air mata. Ia sendiri nyaris lupa bahwa hari itu Hari Ibu. Pikirannya sempat berprasangka—jangan-jangan suaminya punya maksud tersembunyi, drama kecil yang biasa ia peragakan. Tapi raut wajah Sastro terlalu jujur untuk disebut sandiwara.
Baru kini ia menyadari sesuatu: lelaki yang selama ini ia anggap masa bodoh ternyata menyimpan prinsip yang sunyi dan kukuh. Ia telah kehilangan kedua orang tuanya, sementara dirinya masih memiliki ibu dan ayah, tetapi justru sering abai—sibuk oleh pekerjaan yang seolah tak pernah selesai.
Pikiran Siti berkelindan, mengingat perjalanan hidup mereka berdua. Dua puluh tahun menjadi istri, ia terbiasa ditinggal suami menghadiri rapat, musyawarah, pengajian, dan kegiatan entah apa namanya. Kadang ia kesal: pekerjaan yang bukan pekerjaan, mengurusi orang lain yang belum tentu memikirkan dirinya. Bahkan di hari libur, Sastro masih saja “ngunthul”, pergi dari satu undangan ke undangan lain.
Namun perlahan ia sadar, kebiasaan itu bukan sekadar kesibukan kosong.
Sejak ia sendiri diajak Ibu-ibu Aisyiyah terlibat dalam kegiatan kemaslahatan umat, sesuatu menular dalam dirinya. Virus fastabiqul khairat. Silaturahmi demi silaturahmi terasa menenangkan. Pengorbanan waktu, tenaga, bahkan biaya, dijalani dengan ringan—sebab ada rasa menanam kebaikan.
Ia teringat ucapan Sastro bertahun-tahun lalu, yang dulu dianggapnya hanya slogan kosong, “Sebagai kader, kita bukan cuma ujung tombak, tapi juga harus siap jadi ujung tombok. Kalau mengajak orang berkorban, kita harus lebih dulu siap berkorban.”
Kini kalimat itu menemukan maknanya.
Diam-diam, Siti bersyukur. Bersyukur dipertemukan dengan lelaki sederhana, lugu, apa adanya. Lelaki yang tak selalu berada di depan, tak pula gemar disorot. Ia bergerak sekadarnya, semampunya—kadang di tengah, kadang di belakang—tetapi selalu bergerak, selalu memberi, selalu menggembirakan.
Dan pagi itu, dengan gemblong, tahu, dan mendoan di tangan, mereka melangkah menuju rumah ibu—membawa cinta yang tak riuh, tapi sungguh-sungguh.
