Cerpen Gofur Al Kendali
Angin sore Ramadan berembus pelan menyentuh dinding papan rumah kecil itu. Di dapur yang sempit, Bu Siti mengaduk sayur bening dengan api kecil agar hemat gas. Bau bawang putih dan temu kunci merebak tipis, sederhana, tapi hangat.
“Bu, hari ini kita buka pakai apa?” tanya Aisyah, putrinya yang duduk di kelas lima SD.
Sang Ibu tersenyum. “Ada sayur bening, tempe goreng, sama sambal. Alhamdulillah.”
Tak ada ayam goreng, tak ada sirup warna-warni seperti di rumah tetangga. Tapi di meja kayu yang mulai kusam itu, selalu ada doa yang lebih panjang dari daftar menu.
Suaminya, Pak Rahmat, baru saja pulang dari menarik becak. Wajahnya lelah, tapi matanya teduh. Ramadan membuat penumpangnya tak sebanyak hari biasa. Banyak orang memilih menahan diri keluar rumah di siang hari.
“Dapat berapa hari ini, Pak?” tanya Bu Siti pelan.
Pak Rahmat mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan. “Cukup buat beli beras besok. InsyaAllah cukup.”
Cukup.
Kata itu mungkin terdengar biasa, tapi di rumah mereka, cukup adalah bentuk syukur yang paling nyata.
Menjelang magrib, mereka duduk bersila. Kurma enam butir dibagi tiga. Masing-masing dua butir. Air putih dalam gelas plastik menjadi minuman paling mewah sore itu. Saat azan berkumandang dari surau kecil di ujung gang, Pak Rahmat menengadahkan tangan.
“Ya Allah, berkahi rezeki yang sedikit ini. Jadikan ia luas dan cukup bagi kami.”
Aisyah mengamini dengan khusyuk.
Setelah berbuka, Pak Rahmat pergi tarawih. Bu Siti dan Aisyah menyusul kemudian. Di masjid, lampu-lampu menyala terang. Anak-anak berlarian kecil, para ibu membawa sajadah terbaiknya. Ramadan memang tak pernah kehilangan kemeriahannya, bahkan di kampung sederhana seperti itu.
Hari ke-9 Ramadan, tambah 1 hari masuk 10 hari pertama Ramadan
Pak Rahmat pulang dengan wajah berbeda—bukan lelah, tapi terharu. “Tadi di masjid diumumkan,” katanya pelan. “Ada donatur yang mau membantu warga yang penghasilannya terdampak. Namaku disebut.”
Bu Siti terdiam. Matanya berkaca-kaca.
Beberapa hari kemudian, beras, minyak, gula, bahkan sedikit uang tunai datang ke rumah mereka. Tak banyak, tapi terasa lapang. Lebih dari itu, Pak Rahmat ditawari pekerjaan sampingan membantu toko bangunan milik salah satu jamaah masjid.
“Katanya, lihat saya rajin ke masjid dan tak pernah mengeluh,” ujar Rahmat lirih.
Bu Siti tersenyum sambil mengusap sudut matanya. “Ramadan memang tak pernah salah alamat membawa berkah.”
Sejak itu, keadaan perlahan membaik. Rahmat tetap menarik becak di pagi hari, dan sore membantu di toko. Penghasilan mereka tak melimpah, tapi cukup untuk membuat dapur tak lagi terlalu sunyi.
Namun yang paling berubah bukanlah isi dompet mereka, melainkan isi hati.
Aisyah kini terbiasa menyisihkan uang jajannya untuk dimasukkan ke kotak infak. “Biar seperti orang baik yang bantu kita, Bu,” katanya polos.
Bu Siti sering terdiam memandangi keluarganya saat sahur. Nasi hangat, telur dadar tipis, dan teh manis sederhana terasa seperti jamuan istimewa. Ia sadar, keberkahan bukan tentang banyaknya hidangan, melainkan tentang rasa cukup yang Allah titipkan di hati.
Ramadan masuk 1ima belas hari
Di malam menjelang nuzulul quran, Rahmat berkata pelan, “Ternyata puasa bukan cuma menahan lapar ya, Bu.”
Siti menatapnya.
“Puasa itu belajar percaya. Saat kita merasa kurang, Allah justru sedang menyiapkan cukup. Saat kita merasa sempit, Allah sedang membuka lapang.”
Bu Siti menggenggam tangan suaminya.
Di rumah kecil itu, tak ada lampu kristal, tak ada karpet tebal, tak ada meja makan mewah. Tapi ada tawa yang tulus, doa yang tak putus, dan keyakinan yang tak retak oleh keadaan.
Kesederhanaan mereka tak pernah membuat Ramadan terasa miskin.
Justru di situlah keberkahan tumbuh—diam-diam, pelan-pelan, lalu berlimpah dalam cara yang tak selalu bisa dihitung dengan angka.
Gading, Ramadan IX 1447 H
