Cerpen AA Riyanto
Ba’da tarawih, malam di Musholla Mardhatillah Truko tak buru-buru beranjak.
Jamaah lain telah pulang, menyisakan lampu temaram dan sisa harum sajadah yang baru saja digelar. Namun di sudut musholla itu, lantai berubah menjadi ruang cerita.
Ibu-ibu duduk melingkar, membentuk lingkaran kecil yang hangat.
Di tengah mereka, mushaf terletak di atas dampar kayu, ditinggikan secukupnya—seolah setiap ayat ingin dibaca dengan hormat dan kesungguhan.
Suara pertama terdengar pelan. Tak ada yang ingin menonjol. Mereka saling menunggu, memberi jeda, memastikan satu ayat selesai sebelum ayat berikutnya menyusul.
Bacaan itu mengalir tanpa tergesa, seperti sungai kecil yang setia mencari muara.
Tidak ada yang paling fasih, tidak pula paling lantang.
Semua hanya ingin sampai—sampai pada akhir bacaan, sampai pada rasa tenang yang jarang mereka temukan di siang hari.
Selama ini, tadarus sering dibayangkan milik anak-anak atau para lelaki dengan suara tegap dan mantap.
Namun malam itu menghadirkan wajah lain. Ibu-ibu datang dengan ritme yang akrab dengan keseharian: ritme tangan yang biasa mengaduk sayur, menjemur pakaian, menyiapkan sarapan sebelum fajar.
Bacaan mereka membawa jejak dapur, cucian, dan urusan rumah yang tak pernah benar-benar selesai.
“Pelan saja, Bu. Yang penting hati kita ikut membaca,” ujar salah satu dari mereka, tersenyum sambil membenarkan kerudungnya.
Yang lain mengangguk.
“Tadarus ini bukan soal cepat atau lambat. Ini soal pulang. Pulang kepada ayat-ayat yang lama kita rindukan.”
Malam itu kebetulan bertepatan dengan agenda silaturahim tarawih Pemerintah Desa.
Langkah singgah ke musholla semula hanya bagian dari jadwal resmi.
Namun ketika rombongan berdiri di ambang pintu dan menyaksikan lingkaran kecil itu, ada keheningan yang tak bisa dijelaskan.
Bacaan pelan itu justru terasa lebih kuat dari pidato mana pun.
Mushaf di atas dampar kayu menjadi saksi: iman tak selalu perlu suara tinggi atau panggung terang.
Ia cukup dirawat dalam lingkaran sederhana, oleh orang-orang yang setia meluangkan waktu di sela lelahnya.
Ramadan rupanya bekerja dalam diam. Ia tumbuh lewat bisikan ayat yang dibaca perlahan, lewat perempuan-perempuan yang memilih tinggal sedikit lebih lama di rumah Tuhan.
Hingga malam benar-benar selesai, harapan tetap menyala—tenang, bersahaja, dan tak pernah merasa perlu dipuji.
truko, 3 ramadan 1447 h
AA Riyanto adalah kontributor kendalmu.or.id dan perangkat desa Truko, Kangkung, Kendal
