Cerpen Abdul Gofur Al Kendali
Pagi itu embun masih menempel di ujung daun padi. Di tengah hamparan sawah yang hijau muda, Pak Samin berdiri menatap langit.
Usianya sudah lewat setengah abad, kulitnya legam terbakar matahari, tapi semangatnya belum pernah luntur.
“Alhamdulillah, musim ini air cukup,” gumamnya sambil mengelus batang padi yang mulai berisi.
Hari itu bukan hari biasa. Di balai desa, warga Muhammadiyah Tlangu sedang bersiap menyambut Milad Muhammadiyah ke-113. Spanduk biru-putih bertuliskan “Ikhtiar Mencerahkan Umat, Menebar Manfaat” berkibar di depan balai.
Pak Samin semula ragu untuk datang. “Ah, itu acara orang-orang pintar,” pikirnya.
Tapi sejak beberapa bulan terakhir, ia sering diajak oleh Pak Mukhlis, ketua ranting Muhammadiyah setempat, untuk ikut pengajian dan program petani berdaya.
“Pak Samin, nanti sore jangan lupa datang ke pengajian milad, ya,” ajak Pak Mukhlis saat menengok sawahnya.
“Kita mau syukuran panen juga. Muhammadiyah itu bukan hanya soal sekolah dan masjid, tapi juga soal kehidupan—termasuk sawah panjenengan ini.”
Menjelang sore, suara rebana anak-anak menyambut jamaah yang datang. Di antara mereka, tampak Pak Samin duduk di baris belakang, dengan peci lusuh yang bersemayan di kepalanya dan selalu menemaninya ke sawah.

Penceramah hari itu adalah Ustaz Amru Hidayat, sekretaris PCM Sukorejo. Suaranya tenang tapi menyentuh.
“Saudara-saudara, Muhammadiyah didirikan untuk mencerahkan kehidupan. Termasuk kehidupan petani, nelayan, buruh, siapa pun yang berjuang di jalan halal. Karena sejatinya, mencangkul dengan ikhlas juga ibadah.”
Pak Samin menunduk. Kata-kata itu menembus hatinya. Ia ingat masa-masa berat ketika harga gabah jatuh dan ia hampir menyerah menjual sawahnya.
Tapi kini, dengan bimbingan Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam), ia belajar membuat pupuk organik sendiri, menanam sayuran di sela padi, dan menabung sedikit demi sedikit lewat Tabungan Qurban.
Seusai pengajian, panitia membagikan nasi berkat dan bibit cabai gratis. Pak Samin menerima satu bungkus sambil tersenyum.
“Bibitnya dari hasil infaq jamaah, Pak. Nanti kalau panen, sebagian bisa disedekahkan lagi untuk yang membutuhkan,” kata seorang panitia muda.
Di perjalanan pulang, matahari sore menyapa sawah yang berkilau. Pak Samin berhenti sejenak, menatap langit jingga.
“Dulu aku pikir Muhammadiyah itu cuma buat orang kota,” ujarnya pelan. “Tapi ternyata cahayanya sampai juga ke sawahku.”
Ia menanam bibit cabai di pematang, sambil berbisik dalam hati:
“Selamat milad, Muhammadiyah. Teruslah jadi lentera bagi orang kecil seperti aku.”
Dan di antara desir angin sore, cahaya jingga seolah menjelma jadi doa—doa petani yang sederhana, tapi penuh syukur.
Ngampel, Awal Nopember 2025
