PEGANDON, KENDALMU.OR.ID — Kepedulian terhadap penyandang disabilitas kembali ditunjukkan oleh Lazismu Kendal melalui penyerahan bantuan sepeda listrik kepada Nurul Kalamiyah, siswi SLB Negeri Kendal.
Bantuan tersebut diserahkan Kamis (12/2/2026) di kediaman Nurul, Kecamatan Pegandon, sebagai upaya mendorong kemandirian dan semangat belajar siswa difabel.
Setiap hari, ia menempuh perjalanan sekolah tanpa mengeluh, dengan dukungan doa dan harapan dari sang ibu.
Kepala Divisi Program Lazismu Kendal, Hari Sofwan, menegaskan bahwa bantuan tersebut merupakan amanah dari para muzaki dan donatur.
“Sepeda listrik ini berasal dari dana zakat dan infak yang dititipkan kepada kami. Kami ingin memastikan amanah ini benar-benar memberi manfaat nyata bagi Nurul,” tegasnya.
Ia menambahkan, program pemberdayaan difabel tidak bersifat sementara, tetapi dirancang untuk berdampak jangka panjang.
“Zakat tidak hanya untuk bantuan konsumtif. Kami arahkan pada pemberdayaan agar mustahik memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” ujarnya.
Program tersebut terlaksana melalui kolaborasi antara Lazismu Kendal, Lazismu KL RSI, dan PCM Pegandon.
Siti Asiyah, ibu Nurul, mengaku terharu atas perhatian yang diterima keluarganya.

“Saya benar-benar tidak menyangka ada orang-orang baik yang peduli kepada kami. Bantuan ini sangat berarti bagi masa depan anak saya,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Ketua PCM Pegandon, Abdul Rosid, menyampaikan bahwa sinergi lintas lembaga menjadi kunci keberhasilan program sosial.
“Kolaborasi ini membuktikan bahwa kepedulian bersama mampu menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat,” katanya.
Selain bantuan transportasi, Lazismu Kendal juga berencana mendampingi Nurul untuk menjalani pemeriksaan pendengaran secara medis.
Langkah ini diharapkan membuka peluang penggunaan alat bantu dengar guna menunjang aktivitas dan komunikasinya.
Bagi Nurul, sepeda listrik tersebut bukan sekadar sarana transportasi, melainkan simbol harapan baru.
Dengan senyum dan bahasa isyarat sederhana, ia menunjukkan kebahagiaannya, menandai langkah awal menuju masa depan yang lebih mandiri dan percaya diri.
Nurul merupakan penyandang disabilitas tuna rungu dan tuna wicara yang selama ini berangkat dan pulang sekolah seorang diri menggunakan angkutan umum.
Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuatnya harus mandiri sejak dini. Ia tinggal bersama ibunya, Siti Asiyah, dan seorang kakak laki-laki di rumah sederhana setelah kedua orang tuanya berpisah.
Meski memiliki keterbatasan fisik dan menghadapi himpitan ekonomi, Nurul tetap menunjukkan semangat belajar yang tinggi.
