NGAMPEL, KENDALMU.OR.ID – Tua adalah kepastian yang tak bisa ditolak. Ia datang perlahan tanpa perlu diundang.
Rambut yang dahulu hitam mulai memutih, langkah yang dulu ringan kini terasa semakin berat.
Waktu tidak pernah berhenti berjalan, dan usia menjadi penanda bahwa hidup terus bergerak menuju senja.
Namun di antara semua yang pasti itu, ada satu pilihan yang tetap terbuka: ngaji.
Kesadaran untuk mengisi masa tua dengan memperdalam ilmu agama dan mendekatkan diri kepada Tuhan itulah yang menggerakkan Jamaah Kajian Ben Pener (JKBP) Kabupaten Kendal menggelar halal bihalal pada Selasa (7/4/2026) di kediaman Ketua KKBP, Kumaedi, di Desa Ngampel Kulon, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal.
Kegiatan tersebut menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat pembinaan akidah dan ibadah para jamaah.

Bendahara JKBP, Nur Hayati, mengatakan komunitas kajian tersebut awalnya dibentuk pada tahun 2013 oleh para pensiunan pegawai BRI Cabang Kendal.
Seiring berjalannya waktu, kegiatan kajian terus berkembang dan kini terbuka bagi masyarakat umum.
Menurutnya, secara keseluruhan jumlah anggota yang pernah tercatat dalam komunitas kajian ini mencapai sekitar 90 orang.

Namun dalam perjalanannya, sekitar 20 orang telah meninggal dunia, sakit, atau pindah tempat tinggal sehingga tidak lagi aktif mengikuti kegiatan.
“Sekarang yang masih aktif sekitar 70 jamaah. Komposisinya sekitar 60 persen pensiunan BRI dan 40 persen masyarakat umum,” ujar Nunung, sapaan akrab Nur Hayati.
Ia menjelaskan, JKBP didirikan dengan tujuan memberikan bimbingan keagamaan kepada para anggota agar memiliki akidah yang kuat serta mampu menyempurnakan ibadah, baik ibadah mahdhah maupun muamalah dalam kehidupan sosial.

“Kami dibimbing oleh Ustaz Achmad Subchan dalam penguatan akidah agar lebih kokoh dan ibadah semakin baik, baik ibadah mahdhah maupun muamalah sebagai wujud manusia sebagai makhluk sosial,” katanya.
Dalam kegiatan kajian, JKBP menggunakan sejumlah kitab klasik sebagai rujukan utama, di antaranya Riyadhus Sholihin, Al Wajiz, Bulughul Marom, serta Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq.
Nunung menambahkan, sistem kajian yang diterapkan bersifat dialogis sehingga jamaah tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga dapat berdiskusi dan mengajukan pertanyaan.

“Metode kajian kami dialogis agar jamaah bisa aktif berdiskusi dan memahami materi secara lebih mendalam,” ujarnya.
Melalui kegiatan halal bihalal tersebut, para jamaah berharap kebersamaan dan semangat menuntut ilmu agama tetap terjaga, sekaligus memperkuat tali persaudaraan antaranggota kajian.
Sementara itu Ustaz Akhmad Sholeh dalam tausiahnya menjelaskan QS. Ali Imran ayat 133–134 mengajarkan bahwa amal saleh adalah jalan menuju keberkahan dan surga, dan orang yang bertakwa adalah mereka yang aktif berbuat kebaikan, sabar menghadapi ujian, dan pemaaf.
“Lomba dalam kebaikan bukan hanya fisik atau materi, tapi juga lomba spiritual dalam meningkatkan kualitas ibadah dan akhlak,” ujarnya. (fur)
