BOJA, KENDALMU.OR.ID — Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, umat Muslim diingatkan untuk tidak sekadar menunggu waktu, tetapi mempersiapkan diri secara spiritual dan mental.
Bulan penuh ampunan dan keberkahan ini dinilai sebagai momentum paling berharga dalam kehidupan seorang mukmin.
Ustadz Fadhol Abdurrohman menegaskan bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang membangun kualitas diri dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
“Ramadhan adalah bulan pembinaan. Kalau kita masuk tanpa persiapan, kita akan kehilangan banyak peluang pahala. Jangan datang kosong, datanglah dengan kesiapan iman,” tegasnya, Sabtu (14/2/2026).
Menurutnya, setidaknya ada tiga amalan utama yang perlu dibiasakan sebelum Ramadhan tiba.
Pertama, memperbanyak doa agar dipertemukan dengan bulan suci. Ia mencontohkan doa yang sering dibaca Rasulullah SAW pada bulan Sya’ban agar diberi umur dan kekuatan beribadah hingga Ramadhan.

Selain itu, ulama besar seperti Imam al-Baihaqi juga menganjurkan doa khusus agar Ramadhan dapat dijalani dengan amal yang diterima oleh Allah SWT.
“Doa adalah fondasi. Kalau sejak awal kita meminta pertolongan Allah, insyaallah ibadah akan lebih ringan dan berkualitas,” ujarnya.
Kedua, memperbanyak istighfar dan memperbarui taubat.
Menurut Ustadz Fadhol, Ramadhan adalah bulan penyucian jiwa, sehingga hati harus dibersihkan terlebih dahulu dari dosa dan kebiasaan buruk.
“Hati yang kotor akan sulit khusyuk. Bersihkan dulu dengan istighfar dan taubat,” katanya lugas.
Ketiga, membiasakan puasa sunnah, terutama pada bulan Sya’ban.

Puasa ini berfungsi sebagai latihan fisik dan spiritual sebelum memasuki Ramadhan.
Ulama seperti Imam az-Zarqani menyebut puasa Sya’ban sebagai bentuk persiapan agar umat tidak kaget menghadapi puasa wajib.
“Latihan ini penting supaya Ramadhan disambut dengan semangat, bukan keluhan,” tambahnya.
Ia menutup dengan mengajak umat Islam memulai persiapan sejak dini. “Ramadhan adalah tamu agung.
Sambutlah dengan hati bersih, niat kuat, dan ibadah yang serius. Jangan sia-siakan kesempatan emas (pardi)
