CEPIRING, KENDALMU.OR.ID – Suasana khidmat namun penuh semangat mewarnai Masjid Baitul Muttaqin, lingkungan SD IT Muhammadiyah Cepiring, Ahad pagi ini (30/11/2025).
Dalam rangka menyemarakkan Milad Muhammadiyah, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cepiring menyelenggarakan Pengajian Ahad Pagi yang berbeda dari biasanya.
Tidak hanya menyajikan siraman rohani, pengajian kali ini juga memberikan wawasan praktis mengenai kesehatan syaraf, yang relevan bagi berbagai kalangan, terutama lansia.
Acara dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang merdu oleh Ananda Ahnaf, siswa berprestasi SD IT Muhammadiyah Cepiring.
Suara emasnya berhasil menyentuh hati para jamaah, menghadirkan ketenangan sebelum sesi inti dimulai.
Sambutan hangat Sekretaris PCM Cepiring, Teguh Anindito, kemudian menegaskan komitmen Muhammadiyah untuk terus mencerahkan umat, baik dari sisi spiritual maupun fisik.

Bintang utama pengajian ini adalah Ustadz dr. Fahreza Hanifa Akbar, Sp.N, dokter spesialis syaraf yang membawakan materi sangat relevan bagi kehidupan sehari-hari. Salah satu poin menarik yang disampaikan adalah kaitan antara membaca Al-Qur’an dengan pencegahan demensia atau pikun.
“Membaca Al-Qur’an menuntut kita berimajinasi dan menyesuaikan panjang-pendek bacaan (tajwid). Aktivitas otak yang kompleks inilah yang menjadi ikhtiar ampuh mencegah demensia,” jelas dr. Fahreza.
Selain membaca Al-Qur’an, beliau menyarankan agar masyarakat aktif mengikuti kajian majelis ilmu, serta melatih otak melalui permainan strategi yang menstimulasi kemampuan berpikir.
Dr. Fahreza juga menyoroti berbagai gangguan syaraf yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah sholat. Dengan bahasa mudah dipahami, ia menjelaskan perbedaan gejala beberapa penyakit syaraf:
“Bell’s Palsy vs Stroke: Masalah senyum tidak simetris sering disalahartikan. Bell’s Palsy menyerang wajah, sementara Stroke memiliki gejala lebih spesifik. Deteksi dini Stroke: Lidah yang tidak lurus saat dijulur, kesulitan mengucapkan huruf ‘R’, kebas, kesemutan, dan nyeri kepala hebat bisa menjadi tanda awal,” terangnya.

Lebih kanjut, dikatakan, nyeri punggung: Nyeri saat duduk di antara dua sujud pada usia 30-an disertai kebas dapat menandakan gangguan syaraf. Sedangkan Parkinson: Ditandai gerakan lambat seperti robot, jalan membungkuk, dan tremor saat tangan diluruskan.
Pengajian semakin hidup ketika dr. Fahreza mengajak jamaah melakukan simulasi praktik deteksi dini, salah satunya tes vertigo sederhana.
Peserta diminta mendekapkan tangan menyilang di dada, menutup mata, dan menjaga pandangan lurus ke depan. Jika bahu bergoyang atau badan tidak stabil, itu indikasi vertigo akibat gangguan pusat keseimbangan di otak, telinga, atau leher.
Sebagai penutup, dr. Fahreza membagikan tips pencegahan yang bisa dilakukan di rumah, mulai dari olahraga ringan, menjaga pola makan, hingga menghindari konsumsi penyedap rasa berlebihan. Ia mengingatkan bahwa operasi syaraf hanya efektif bila kerusakan masih kecil dan terlokalisir.
“Penyakit syaraf di masa tua seringkali adalah ‘tabungan’ dari kesalahan pola hidup di masa muda,” pungkas dr. Fahreza, menutup pengajian yang sekaligus membuka wawasan baru bagi jamaah.
Pengajian Ahad Pagi ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sumber ilmu kesehatan syaraf yang berharga bagi warga Muhammadiyah Cepiring, mengingatkan pentingnya keseimbangan antara spiritual dan kesehatan fisik dalam kehidupan sehari-hari. (aufa)
