SEMARANG, KENDALMU.OR.ID – Program Studi Doktor Pendidikan Seni Universitas Negeri Semarang (UNNES) kembali melahirkan satu doktor baru.
Adalah Viktor Purhanudin yang berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Ideologi Pendidikan dalam Struktur dan Praktik Pendidikan Musik Berbasis Kurikulum Cambridge serta Implikasinya terhadap Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini” dalam ujian terbuka yang digelar Kamis (30/10/2025) di Ruang Bundar, Lantai 2 Gedung B0 (Dekanat) Semarang.
Ujian terbuka yang berlangsung pukul 10.00–11.00 WIB itu dipimpin oleh Prof. Dr. Tommi Yuniawan, M.Hum. selaku ketua sidang, dengan anggota penguji: Dr. Syakir, M.Sn., Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., Dr. Suharto, S.Pd., M.Hum., Dr. Syahrul Syah Sinaga, M.Hum., Dr. Udi Utomo, M.Si., dan Prof. Dr. Agus Cahyono, M.Hum..

Sidang promosi dihadiri oleh jajaran guru besar, dosen, mahasiswa pascasarjana, serta tamu undangan yang memberikan apresiasi atas capaian akademik Viktor.
Dalam pemaparannya, Viktor menguraikan bahwa Kurikulum Cambridge yang banyak diterapkan di sekolah-sekolah internasional di Indonesia mengandung muatan ideologis yang memengaruhi cara berpikir peserta didik.
“Pendidikan musik dalam Kurikulum Cambridge tidak netral secara ideologis. Di balik struktur dan praktiknya, terdapat nilai-nilai yang merefleksikan pandangan humanistik-liberal Barat,” ujar Viktor.
Ia menegaskan, nilai-nilai tersebut membentuk habitus musikal peserta didik yang menekankan kreativitas individu, kompetisi, dan kebebasan berekspresi. Namun, menurut Viktor, aspek-aspek ini dapat diadaptasi secara kontekstual agar relevan dengan karakter pendidikan Indonesia.
“Nilai-nilai global itu bisa dimanfaatkan untuk menumbuhkan kecerdasan majemuk anak usia dini — tidak hanya musikal, tetapi juga interpersonal, intrapersonal, dan linguistik,” jelasnya.
Melalui analisis ideologis dan praksis pendidikan, Viktor menyoroti pentingnya kesadaran ideologi dalam perancangan kurikulum musik.

“Pendidikan musik tidak sekadar melatih kemampuan estetis, tetapi membentuk cara berpikir dan kepribadian anak. Guru dan perancang kurikulum perlu memahami nilai-nilai di balik kurikulum global agar bisa menyesuaikannya dengan karakter bangsa,” tegasnya.
Para penguji memuji kedalaman analisis disertasi Viktor yang menggabungkan teori ideologi pendidikan dari Althusser dan Freire dengan teori kecerdasan majemuk Howard Gardner. Prof. Dr. Tommi Yuniawan menyebut karya Viktor sebagai kontribusi penting dalam kritik terhadap globalisasi kurikulum seni.
“Disertasi ini memberi perspektif baru tentang bagaimana kurikulum global dapat diadaptasi secara kritis tanpa kehilangan jati diri pendidikan Indonesia,” ujar Prof. Tommi.
Setelah melalui sesi tanya jawab dan evaluasi, Viktor dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan resmi menyandang gelar Doktor (Dr.) dalam bidang Pendidikan Seni.
Keberhasilan ini menambah daftar akademisi UNNES yang berkomitmen mengembangkan pemikiran kritis dan kontekstual dalam pendidikan seni.
Disertasi Viktor diharapkan menjadi rujukan bagi pendidik dan peneliti dalam merancang pendidikan musik yang inklusif, cerdas, dan berkepribadian Indonesia.
