Oleh Galuh Andi Luxmana
Ada keadaan yang patut menjadi renungan di Muhammadiyah. Ketika seorang kader kecewa, memilih mutung, lalu menjauh dari persyarikatan, respons yang muncul justru kurang baik. Ada yang berkata, “Biarkan saja, masih banyak orang,” atau menganggap kader tersebut gampang mutung. Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, tetapi bisa melukai orang yang selama ini berjuang.
Memang, tidak semua kader yang mundur disebabkan oleh kesalahan pimpinan. Namun, perlu ada keberanian untuk bertanya mengapa kader tersebut memilih pergi. Jangan sampai kita lebih cepat menyalahkan daripada mendengarkan. Melalui tabayun, persoalan bisa dibicarakan dan jalan keluar dapat dicari bersama. Kader perlu memperbaiki diri, tetapi pimpinan juga perlu mengevaluasi cara memimpin. Jangan sampai orang yang ikut membesarkan organisasi justru dibiarkan pergi tanpa ada upaya memahami persoalannya.
Persoalan ini berkaitan dengan kepemimpinan dan pengkaderan. Tidak semua pimpinan Muhammadiyah tumbuh melalui proses kaderisasi sejak bawah. Ada yang dipercaya karena memiliki keahlian, jabatan, jaringan, atau kemampuan tertentu yang dibutuhkan persyarikatan. Kehadiran mereka tentu membawa manfaat. Namun, kemampuan profesional tidak otomatis membuat seseorang memahami cara mengayomi kader.
Memimpin bukan sekadar menjalankan program dan membagi tugas, tetapi juga mendampingi manusia agar tumbuh bersama organisasi. Ketika ruh pengkaderan tidak dipahami, hubungan dengan kader bisa berubah menjadi persoalan suka atau tidak suka (like and dislike). Kader yang sejalan dirangkul, sedangkan yang berbeda pandangan dijauhkan. Padahal, Muhammadiyah membutuhkan kepemimpinan yang adil, terbuka, dan mampu merawat perbedaan demi kepentingan persyarikatan.
Sejarah KH. Ahmad Dahlan memberikan pelajaran bahwa membangun gerakan bukan hanya soal gagasan besar, tetapi juga mendidik manusia. Melalui pendidikan dan pembinaan, beliau mengajak orang-orang di sekitarnya untuk ikut memperjuangkan cita-cita Muhammadiyah. Dari proses itulah tumbuh generasi yang meneruskan perjuangan. Pelajarannya, organisasi tidak cukup hanya mencari orang-orang hebat yang sudah jadi, tetapi juga harus bersedia mendidik mereka yang masih berproses.
Kaderisasi membutuhkan kesabaran karena tidak semua orang langsung matang dan tidak semua orang selalu benar. Jika kader yang sedang kesulitan justru ditinggalkan, siapa yang akan mendampingi mereka untuk berkembang? Gerakan yang besar bukan hanya gerakan yang mampu memanfaatkan kemampuan anggotanya, melainkan juga yang mau membesarkan potensi setiap kader.
Al-Qur’an memberikan pedoman kepemimpinan dalam Surah Ali Imran ayat 159. Allah menjelaskan bahwa sikap lemah lembut Nabi Muhammad membuat orang-orang tetap dekat dengannya. Seandainya beliau bersikap keras dan berhati kasar, mereka tentu akan menjauh. Ayat ini juga mengajarkan pentingnya memaafkan dan bermusyawarah. Pesan tersebut relevan dalam kehidupan organisasi. Ketika kader kecewa atau melakukan kesalahan, jangan terburu-buru menghakimi. Berikan ruang untuk berbicara, menjelaskan persoalan, dan mencari penyelesaian.
Bagi orang-orang yang mengkader dari bawah, kehilangan seorang kader bukan perkara sepele. Ada waktu, tenaga, kesabaran, dan harapan yang telah ditanamkan. Ketika kader tersudut, kecewa, lalu tidak pernah muncul kembali, yang hilang bukan sekadar satu anggota, melainkan juga potensi dan kesempatan untuk melanjutkan perjuangan bersama. Pak Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, juga menekankan pentingnya kaderisasi dan pembinaan anggota agar persyarikatan tidak hanya kuat dalam amal usaha, tetapi juga kokoh dalam kehidupan kadernya.
Pada akhirnya, Muhammadiyah membutuhkan pimpinan yang bukan hanya pandai memanfaatkan kemampuan orang lain, tetapi juga mampu menumbuhkan dan merawat kader. Mereka yang tidak melalui pengkaderan formal tetap dapat menjadi pimpinan, asalkan bersedia belajar memahami ruh kaderisasi dan mengayomi anggota. Sebaliknya, kader yang tumbuh dari bawah juga perlu menjaga kedewasaan dan terbuka terhadap kritik. Merawat persyarikatan adalah tanggung jawab bersama, tetapi pimpinan memiliki peran penting dalam menciptakan suasana yang membuat kader merasa didengar dan dihargai.
*) Galuh Andi Luxmana, S.Pd; M.Pd Praktisi Pendidikan dan Ketua Korp Mubaligh Muhammadiyah Kendal
