
KENDAL. KENDALMU.OR.ID – Di tengah derasnya arus informasi digital, Ramadan tahun ini diingatkan bukan hanya sebagai momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan “jempol” dari kebiasaan menggulir dan membagikan informasi tanpa kendali.
Fenomena yang disebut sebagai scroll society dinilai telah melahirkan keputusan terburu-buru hingga kekacauan sosial hanya dari satu klik.
Hal itu disampaikan Khafid Sirotudin saat mengulas gagasan dalam buku Puasa Sebagai Gerakan Sosial karya Abdul Mu’ti.
Dalam nukilan berjudul Puasa Tahan Jempol, Abdul Mu’ti menyoroti adanya “lapar” yang tidak terasa di perut, melainkan menguasai pikiran—lapar untuk terus tahu, terus berkomentar, dan terus menggulir layar tanpa benar-benar membaca dan mencerna.
Khafid menegaskan, tantangan puasa di era digital tidak lagi sebatas fisik, tetapi juga moral dan sosial.
“Puasa hari ini bukan hanya menahan lapar dan haus. Tantangan terbesarnya adalah menahan jempol. Banyak kekacauan sosial lahir dari satu klik—dari informasi yang belum jelas, potongan video tanpa konteks, sampai komentar yang melukai,” tegas Khafid Sirotudin.

Menurutnya, persoalan utama masyarakat saat ini bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan kendali diri. Informasi datang begitu deras, namun tidak diimbangi kemampuan menyaring dan mengendalikannya.
Akibatnya, emosi lebih cepat bekerja dibanding akal sehat.Ia mengingatkan bahwa tujuan puasa sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an adalah membentuk takwa, yang salah satu wujudnya adalah kemampuan mengendalikan dorongan diri.
Jika umat mampu menahan yang halal seperti makan dan minum selama berjam-jam, seharusnya lebih mampu menahan dorongan menyebarkan kabar yang belum pasti atau melampiaskan amarah di ruang digital.
“Kalau kita bisa menahan minum ketika haus, mengapa tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut menyebarkan yang belum jelas? Ramadan harus menjadi ajang pendisiplinan digital,” ujarnya lugas.
Khafid menilai, budaya scroll society mendorong masyarakat gemar menggulir informasi tanpa sungguh-sungguh membaca dan memahami.
Judul-judul provokatif, potongan video emosional, hingga komentar bernada candaan yang menyakitkan kerap menjadi pemicu kegaduhan.
Karena itu, ia mengajak masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum refleksi dan pengendalian diri, bukan hanya di meja makan, tetapi juga di ruang digital.
Puasa, katanya, harus mampu melahirkan pribadi yang lebih sabar, lebih bijak, dan lebih bertanggung jawab dalam setiap klik.