Cerpen Gofur Alkendali
Oleh fajar yang masih malu-malu, Kampung Sumberejo memiliki dua suara yang paling ditunggu: kokok ayam milik Pak Kasan dan azan Subuh dari Mas Rofi.
Mas Rofi bukan imam besar. Ia hanya muazim masjid kampung. Tukang servis kipas angin di siang hari, muazim setiap Subuh.
Namun sejak Piala Dunia digelar, jamaah masjid berubah drastis.
Biasanya saf pertama hanya diisi tujuh orang.
Kini hampir penuh.
Mas Rofi sempat terharu.
“Masyaallah… ternyata dakwah mulai berhasil,” gumamnya.
Sampai suatu malam ia mendengar obrolan para pemuda.
“Bro, habis final langsung ke masjid, ya. Kan nanggung.”
“Iya. Daripada pulang dulu, mending Subuhan sekalian.”
Hati Mas Rofi sedikit meringis.
“Jangan-jangan yang lebih ampuh membangunkan warga kampung bukan suara azan, melainkan aksi Messi, Julián Álvarez dan Lamine Yamal di final Piala Dunia.”?
Ia tertawa sendiri.
Malam final pun tiba.
Warung kopi penuh. Teriakan “Gool!” terdengar berkali-kali.
Menjelang azan, para penonton berbondong-bondong menuju masjid.
Ada yang masih memakai jersey, ada yang membawa bendera, bahkan ada yang lupa melepas peluit di lehernya.
Mas Rofi mengumandangkan azan dengan suara paling merdu yang ia punya.
Selesai salat,
Pak Haji Malik berdiri.
“Alhamdulillah, jamaah Subuh penuh.”
Semua mengangguk.
Lalu beliau bertanya, “Besok kalau Piala Dunia sudah selesai, siapa yang tetap datang?”
Mendadak masjid lebih sunyi daripada ketika listrik padam.
Seorang anak kecil mengangkat tangan.
“Saya, Pak Haji.”
“Kenapa?”
“Soalnya kalau Subuh ke masjid, saya dapat sarapan dari nenek.”
Semua jamaah tertawa.
Pak Haji ikut tertawa, lalu berkata pelan, “Tidak apa-apa kalau awalnya datang karena bola, karena sarapan, atau karena ikut teman. Yang penting jangan berhenti datang sampai akhirnya datang karena Allah.”
Kalimat itu menusuk hati banyak orang.
Esoknya…
Piala Dunia telah usai.
Mas Rofi kembali melangkah menuju masjid dengan perasaan biasa saja. Ia menduga saf akan kembali kosong.
Namun ketika azan selesai, satu per satu jamaah berdatangan.
Ada yang masih mengantuk.
Ada yang mengucek mata.
Ada yang bahkan salah memakai sandal.
Jumlahnya memang tidak sebanyak malam final.
Tetapi cukup membuat saf pertama terisi penuh.
Mas Rofi tersenyum.
Pak Haji Malik menepuk pundaknya.
“Lihat, Rofi. Allah punya cara sendiri memanggil hamba-Nya. Kadang lewat musibah, kadang lewat nikmat… bahkan kadang lewat pertandingan sepak bola.”
Mas Rofi mengangguk.
Sejak hari itu, setiap ada orang bertanya siapa juara Piala Dunia tahun itu, ia selalu menjawab sambil tersenyum,
“Entahlah siapa yang mengangkat trofi. Yang saya tahu, juara sebenarnya adalah orang yang tetap datang ke masjid setelah sorak-sorai stadion selesai.”
Sebab pertandingan terbesar bukan berlangsung selama sembilan puluh menit.
Melainkan setiap hari, ketika alarm Subuh berbunyi, lalu hati bertanding melawan bantal.
Dan siapa yang memenangkan pertandingan itu, dialah pemegang piala yang tak pernah diperebutkan manusia—ridha Allah.
Pesan bahwa hobi atau hiburan dapat menjadi jalan menuju kebaikan, asalkan tidak melalaikan ibadah, juga banyak disampaikan dalam tulisan-tulisan dakwah tentang sepak bola dan salat Subuh.
Gading, 19/7/2026
