KENDALMU.OR.ID. Nasyiatul Aisyiyah (NA) menegaskan komitmennya memperkuat peran perempuan muda dalam menjawab tantangan zaman.
Komitmen itu mengemuka dalam pembukaan Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah yang digelar di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jumat (7/8/2026).
Pembukaan muktamar dihadiri sekitar 6.700 kader Nasyiatul Aisyiyah dari seluruh wilayah dan daerah se-Indonesia.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir turut memberikan apresiasi atas pelaksanaan Tanwir dan Muktamar ke-15 NA tersebut.
Haedar menegaskan, muktamar tidak boleh sekadar menjadi ajang berkumpul.
Forum tersebut harus menjadi ruang bermusyawarah untuk membahas persoalan, tantangan, program, hingga proyeksi organisasi ke depan.
“Sebagaimana fokus utamanya, yaitu bermusyawarah dengan sebaik-baiknya terkait masalah, tantangan, program dan proyeksi Nasyiatul Aisyiyah ke depannya,” ujar Haedar.
Menurutnya, tradisi musyawarah harus menjadi kekuatan dalam setiap forum Muhammadiyah, Aisyiyah maupun organisasi otonom.
Berbagai persoalan yang sulit diyakini dapat diselesaikan apabila dibahas dengan penuh kebijaksanaan dan semangat syuro.
“Sesuatu yang musykil atau susah, jika dibahas dengan baik dan semangat syuro atau bermusyawarah akan dapat diselesaikan dengan baik,” tegasnya.
Haedar juga mengingatkan agar organisasi tidak berhenti pada aktivitas berkumpul. Setiap proses organisasi harus memiliki nilai dan arah perjuangan yang jelas.
“Maka dalam musyawarah ini, proyeksikan langkah Nasyiatul Aisyiyah dalam lima, sepuluh bahkan hingga lima puluh tahun ke depan. Tentukan apa peran Nasyiatul Aisyiyah dalam kehidupan umat dan bangsa,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Ariati Dina Puspitasari menyampaikan apresiasi atas dukungan Muhammadiyah, Aisyiyah dan seluruh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) terhadap pelaksanaan muktamar.
Menurut Ariati, dukungan tersebut menjadi bukti NA mendapat perhatian dan kasih sayang dari para ayahanda dan ibundanya di lingkungan persyarikatan.
“Kami kembali ke Surakarta membawa semangat perempuan-perempuan muda di seluruh Nusantara untuk bermusyawarah dan bermuhasabah merumuskan arah perjuangan Nasyiatul Aisyiyah,” katanya.
Ariati menilai perubahan pola kehidupan keluarga di tengah transformasi digital menuntut NA mampu membaca perkembangan zaman. Organisasi perempuan muda harus berani berinovasi agar dakwah tetap relevan.
“Kita tidak hanya perlu mampu bertahan, tapi juga berinovasi untuk dakwah berkemajuan,” ujarnya.
Ia menegaskan, kepemimpinan di NA bukan tentang kesempurnaan, melainkan memastikan organisasi tetap berjalan sesuai nilai yang diyakini. Perempuan, kata dia, harus menjadi pelaku utama perubahan.
“Perempuan adalah pelaku utama perubahan. Selamanya, Nasyiatul Aisyiyah akan menjadi putri Islam berkemajuan yang bermanfaat untuk keluarga, bangsa dan agama,” pungkasnya.
