Cerpen Gofur Alkendali
Oleh suatu sebab yang sampai sekarang masih diperdebatkan warga kampung, Sarmin Thuun mendadak terkenal sebagai orang paling rajin di musala.
Padahal sebelumnya, ia lebih dikenal sebagai ahli tidur setelah Subuh.
Kalau ada lomba mendengkur tingkat kecamatan, warga yakin Sarmin bisa membawa pulang piala bergilir.
Suatu malam, setelah pengajian, Sarmin pulang dengan wajah serius.
“Aku mau masuk surga,” katanya kepada istrinya.
“Alhamdulillah,” jawab istrinya.
“Tapi lewat pintu belakang saja.”
Istrinya melotot.
“Memangnya surga rumah kontrakan?”
Sarmin menggaruk kepala.
“Ya maksudku, aku ini orang biasa. Amal sedikit. Takut antre di pintu depan.”
Keesokan harinya, kabar itu menyebar ke seluruh kampung.
Di warung kopi, orang-orang tertawa.
“Min, surga itu bukan gedung pernikahan,” kata Pak RT.
“Tahu,” jawab Sarmin santai. “Tapi kalau ada pintu khusus orang yang amalnya pas-pasan, aku daftar duluan.”
Sejak saat itu, Sarmin berubah.
Ia mulai membantu tetangga tanpa diminta.
Ada janda tua yang rumahnya bocor, Sarmin datang membawa tangga.
Ada petani kehilangan kambing, Sarmin ikut mencari sampai malam.
Ada anak kecil jatuh dari sepeda, Sarmin yang mengantar ke puskesmas.
Anehnya, semua dilakukan diam-diam.
Ketika dipuji, ia selalu menjawab, “Jangan keras-keras. Malaikat bisa salah fokus.”
Warga makin bingung.
“Min, sebenarnya kamu mengejar apa?”
Sarmin tersenyum.
“Aku cuma takut datang kepada Allah dengan tangan kosong.”
Jawaban itu membuat orang terdiam.
Bulan demi bulan berlalu.
Suatu malam, seorang ustaz bertanya di pengajian.
“Menurut kalian, siapa orang paling dekat dengan rahmat Allah?”
Jawaban bermacam-macam.
Ada yang menyebut ahli ibadah.
Ada yang menyebut hafiz Al-Qur’an.
Sarmin mengangkat tangan.
“Menurut saya, orang yang paling dekat dengan rahmat Allah adalah orang yang membuat hidup orang lain lebih ringan.”
Ustaz tersenyum.
“Itu jawaban yang bagus.”
Sarmin menunduk malu.
Lalu ia berbisik kepada temannya,
“Kalau benar begitu, mungkin pintu belakang tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Karena ternyata Allah tidak menghitung arah pintunya.”
“Lalu apa yang dihitung?”
Sarmin memandang langit malam.
“Keikhlasan langkah kaki kita menuju-Nya.”
Temannya mengangguk.
“Berarti selama ini kamu salah paham?”
Sarmin tertawa.
“Iya. Kupikir surga itu soal mencari jalan masuk. Ternyata surga itu soal menjadi manusia yang bermanfaat sebelum masuk.”
Malam itu, tawa kecil terdengar di serambi musala.
Dan untuk pertama kalinya, warga kampung sepakat bahwa Sarmin Thuun memang aneh.
Tetapi dalam keanehannya, ia mengajarkan sesuatu yang sederhana:
Kadang-kadang jalan tercepat menuju surga bukan lewat pintu depan atau belakang, melainkan lewat hati yang tulus membantu sesama.