Cerpen : Gofur Alkendali
Langit tampak lebih sunyi dari biasanya. Angin malam berembus pelan, membawa aroma tanah yang baru saja disentuh embun.
Di ujung gang sempit itu, lampu-lampu rumah masih menyala—seolah enggan memadamkan cahaya, seperti hati yang belum siap berpisah.
Ramadan hampir selesai.
Di serambi rumahnya, Ilham duduk bersandar pada tiang kayu yang mulai rapuh.
Tangannya menggenggam tasbih yang sejak awal bulan tak pernah lepas dari saku.
Butir demi butir ia geser perlahan, namun pikirannya berkelana jauh—melampaui hitungan dzikir yang berulang.
“Apa aku sudah cukup berubah?” gumamnya lirih.
Dari dalam rumah, suara ibunya terdengar. Lembut, namun sarat makna.
“Ham, besok sudah malam takbiran. Jangan lupa bantu ayah bersih-bersih mushala.”
Ilham mengangguk, meski ia tahu ibunya tak melihat.
Hatinya tiba-tiba terasa sesak. Ramadan yang ia tunggu-tunggu, yang ia janjikan sebagai titik balik, justru terasa berlalu begitu cepat—terlalu cepat.
Ia teringat malam pertama Ramadan. Dengan penuh semangat, ia berjanji pada dirinya sendiri: lebih rajin salat, lebih sabar, lebih jujur, dan lebih dekat kepada Tuhan. Ia ingin menjadi seseorang yang berbeda ketika bulan ini pergi.
Namun kini, di ujung waktu yang tersisa, ia justru diliputi tanya.
Apakah ia benar-benar berubah, atau hanya sekadar ikut arus suasana?
Dari kejauhan, suara anak-anak berlarian sambil menyalakan petasan kecil memecah kesunyian.
Tawa mereka riang, tanpa beban. Sementara Ilham justru merasa semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Ia bangkit, melangkah perlahan menuju mushala di ujung gang.
Pintu kayu itu setengah terbuka, memperlihatkan cahaya temaram dari lampu gantung tua.
Di dalamnya, hanya ada satu orang—seorang lelaki tua yang sedang duduk, menunduk dalam doa panjang.
Ilham mengenalnya. Pak Rahmat. Lelaki yang hampir setiap malam tak pernah absen dari mushala, bahkan ketika tubuhnya mulai renta.
Ilham duduk di sudut, mencoba menenangkan diri. Ia memandang Pak Rahmat yang masih khusyuk, seolah waktu berhenti di sekitarnya.
Beberapa menit kemudian, lelaki tua itu mengangkat kepala. Tatapannya tenang, namun dalam.
“Kamu kelihatan gelisah, Ham,” katanya tanpa basa-basi.
Ilham tersenyum tipis. “Ramadan mau habis, Pak. Saya takut… saya masih sama seperti dulu.”
Pak Rahmat tersenyum, lalu menepuk pelan sajadah di sampingnya, mengisyaratkan Ilham untuk mendekat.
“Ramadan itu bukan tentang siapa yang paling banyak berubah dalam waktu singkat,” ujarnya pelan. “Tapi tentang siapa yang mau terus melangkah, meski sedikit.”
Ilham terdiam.
“Kalau kamu merasa belum cukup baik,” lanjutnya, “itu justru tanda hatimu masih hidup. Yang berbahaya itu kalau merasa sudah cukup.”
Angin malam masuk dari celah jendela, membawa kesejukan yang tak hanya menyentuh kulit, tapi juga hati Ilham.
“Jadi… belum terlambat, Pak?” tanya Ilham, suaranya nyaris bergetar.
Pak Rahmat menggeleng pelan.
“Selama kamu masih bernapas, tidak ada kata terlambat. Bahkan di detik terakhir Ramadan pun, pintu itu masih terbuka.”
Ilham menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.
Di luar, suara takbir mulai terdengar samar-samar dari masjid besar di ujung desa. Pelan, lalu semakin jelas, menggema ke seluruh penjuru.
Allahu Akbar… Allahu Akbar…
Ilham memejamkan mata. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak lagi merasa kehilangan.
Yang ia rasakan justru harapan—bahwa perjalanan ini belum selesai.Ia mengangkat tangan, berdoa dalam diam.
“Ya Allah… jika Ramadan ini hampir usai, jangan biarkan aku kembali seperti dulu. Meski sedikit, biarkan aku tetap melangkah…”
Air matanya jatuh, satu per satu.
Di luar, gema takbir semakin menggema. Malam benar-benar hampir usai.
Namun bagi Ilham, mungkin—ini justru sebuah awal.
Ngampel, Akhir Ramadan 1447 H
