KENDALMU.OR.ID – Kisah Nabi Adam dan Hawa bukan sekadar cerita tentang awal kehidupan manusia.
Di baliknya terdapat pelajaran tentang ketaatan, godaan, cara menyikapi kesalahan, hingga pentingnya kelembutan dalam membangun rumah tangga.
Pesan itu disampaikan Ustadz Drajat Al Maula dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngampel.
Kajian digelar di Masjid As Shofiah Sukodono, Ahad (23/8/2026), dan diikuti anggota PCM serta pegawai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Ustadz Drajat membawakan materi Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 35 dan 36, melanjutkan pembahasan pada kajian sebelumnya.
Dalam kajiannya, Ustadz Drajat menjelaskan perjalanan Nabi Adam setelah diciptakan Allah dengan sempurna.
Para malaikat diperintahkan menghormatinya, tetapi Iblis menolak dan membangkang sehingga mendapat hukuman dari Allah.
Nabi Adam kemudian ditempatkan di surga dan diperbolehkan menikmati berbagai kenikmatan. Namun, Allah memberikan larangan agar tidak mendekati dan memakan buah dari sebuah pohon.

Dalam perjalanan tersebut, Allah menciptakan Hawa sebagai pasangan Nabi Adam.
Ustadz Drajat turut menjelaskan istilah “Siti Hawa”. Menurutnya, istilah tersebut tidak terdapat dalam kitab asli, tetapi muncul dalam sejumlah terjemahan. Kata “Siti” berasal dari “Sayyidati” yang bermakna perempuan yang dihormati.
“Islam sudah diturunkan sudah sempurna, jadi tidak perlu ditambah atau di-upgrade karena seperti tidak sempurna,” tegasnya.
Ia mengingatkan jamaah agar perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling berdebat.
Menurutnya, setiap perbedaan perlu disikapi dengan tenang dan tetap menghargai pilihan masing-masing.
Pembahasan kemudian diarahkan pada godaan Iblis terhadap Nabi Adam dan Hawa hingga keduanya memakan buah yang dilarang.

Dari kisah itu, Ustadz Drajat mengambil pelajaran untuk kehidupan keluarga.
Ia meminta para suami membimbing istri dengan kelembutan ketika menemukan kesalahan.
Nasihat yang disampaikan dengan cara keras justru berpotensi menimbulkan persoalan baru.
“Kalau ada kesalahan, luruskan dengan lembut. Kalau dipaksa, bisa patah,” jelasnya.
Kajian tersebut diharapkan menjadi pengingat jamaah untuk semakin teguh menjalankan ajaran Islam, tidak mudah terpengaruh hal negatif, serta mampu menyikapi perbedaan secara bijak.
Bagi keluarga, kisah Adam dan Hawa juga menjadi pelajaran bahwa kesalahan harus diperbaiki dengan nasihat, kesabaran, dan kelembutan. (rio)
