KENDALMU.OR.ID Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sukorejo melalui Majelis Tabligh meneguhkan komitmen menjalankan misi kerisalahan dan keumatan Muhammadiyah.
Kajian Ahad Pahing ini digelar di Jl. Soejono Sumber, RT.09/RW.01, Sumber, Kebumen, Kec. Sukorejo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah 51363, Ahad (19/7/2026).
Kajian yang dihadiri unsur pimpinan Persyarikatan, mubaligh, pengurus cabang dan ranting, pengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), organisasi otonom (Ortom), serta jamaah dari berbagai daerah itu menghadirkan Ketua Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Jawa Tengah, Ustadz Muhammad Aliyun sebagai pemateri.
Ia menjelaskan bahwa keberkahan merupakan bertambahnya kebaikan dalam kehidupan, baik berupa keimanan, ilmu, amal saleh maupun manfaat bagi sesama.
Dari keberkahan itulah lahir ketenangan hati yang tidak dapat diukur dengan materi.
Memasuki materi utama, Muhammad Aliyun menegaskan Majelis Tabligh menjadi ujung tombak Muhammadiyah dalam melanjutkan misi dakwah Rasulullah SAW. Ia mengutip QS Al-Baqarah ayat 151 yang menjelaskan tugas Rasulullah, yakni membacakan ayat Allah, menyucikan jiwa, mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah, serta membimbing umat menuju peradaban yang berilmu.
“Muhammadiyah didirikan untuk melanjutkan perjuangan dakwah Rasulullah. Karena itu, dakwah harus terus menghadirkan pencerahan dan membimbing umat menuju kehidupan yang diridhai Allah SWT,” tegasnya.
Ia mengingatkan cita-cita Muhammadiyah sejak didirikan KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Pada sesi keumatan, Muhammad Aliyun menekankan dakwah Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada penyampaian ceramah, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Dakwah Muhammadiyah harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dakwah tidak cukup hanya di atas mimbar, tetapi juga hadir melalui pelayanan, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan umat,” ujarnya.
Ia menjelaskan empat filosofi dakwah Majelis Tabligh Muhammadiyah, yakni mencerahkan, menggerakkan, menggembirakan, dan merekatkan.
Menurutnya, dakwah harus mampu membangun kesadaran, menggerakkan amal, menghadirkan kebahagiaan, sekaligus memperkuat ukhuwah Islamiyah dan persatuan bangsa.
Sebagai wujud dakwah bil hal, ia mencontohkan gerakan Penolong Kesengsaraan Umum (PKU) yang lahir dari spirit Surah Al-Ma’un.
Melalui rumah sakit, sekolah, panti asuhan, pelayanan sosial, dan berbagai program pemberdayaan, Muhammadiyah terus melayani masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama, suku, maupun golongan.
Menutup kajian, Muhammad Aliyun mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk menjaga istiqamah dalam berdakwah sekaligus terus meningkatkan kualitas iman, ilmu, dan amal.
“Jangan hanya konsisten, tetapi terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih beriman, lebih berilmu, lebih banyak beramal, dan semakin bermanfaat bagi umat,” pungkasnya. (silo)
