KENDALMU.OR.ID – Kedudukan dan jabatan bukan tiket untuk merebut tempat duduk orang lain.
Pesan tegas itu mengemuka dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngampel di Aula Kecamatan Ngampel, Ahad (6/9/2026).
Kajian juga mengupas tuntunan Rasulullah SAW mengenai adab tidur hingga etika ketika berada di majelis.
Pengajian yang diikuti anggota PCM dan pegawai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tersebut menghadirkan Ketua Majelis Tabligh PCM Ngampel, Ustadz Adi Ismanto, sebagai penceramah. Materi disampaikan dengan merujuk hadis sahih serta keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah.

Adi menjelaskan, kehidupan seorang muslim sejak bangun hingga kembali tidur memiliki tuntunan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Sunnah tersebut, menurutnya, tidak sebatas ibadah, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan dan kehidupan sosial.
Dalam adab tidur, Rasulullah SAW menganjurkan posisi miring ke kanan. Posisi tersebut dinilai lebih baik bagi tubuh, sedangkan tidur tengkurap tidak dianjurkan karena berpotensi memberikan dampak buruk bagi kesehatan.
“Kalau tidur sudah miring ke kanan tapi leher sakit, coba lihat bantalnya tinggi atau tidak. Rasulullah tidur tidak menggunakan bantal tinggi,” ujarnya.
Ia menyebut posisi tidur miring ke kiri dapat memberikan tekanan tertentu pada organ tubuh. Namun, kondisi khusus seperti kehamilan dan GERD menjadi pengecualian. Tidur telentang juga diperbolehkan selama aurat tetap terjaga.

Pembahasan kemudian bergeser pada adab di majelis. Duduk bersila maupun ihtiba diperbolehkan karena pernah dilakukan Rasulullah SAW. Jamaah juga diingatkan tidak menopang tubuh dengan satu tangan, khususnya tangan kiri.
Yang paling ditekankan adalah larangan mengusir orang yang lebih dahulu menempati tempat duduk hanya karena alasan jabatan.
“Biasanya ada petinggi, semisal bupati, kemudian mengusir orang yang sudah duduk. Itu tidak boleh. Tempat tersebut tetap hak orang yang duduk, kecuali dia sudah benar-benar pulang,” tegasnya.
Adi juga meminta jamaah yang datang terlambat tidak menerobos ke tengah majelis hingga mengganggu pandangan peserta lain.
Melalui kajian tersebut, jamaah diajak tidak sekadar mengetahui sunnah, tetapi menerapkannya dalam keseharian dengan menjunjung kesetaraan, menghormati sesama, dan meneladani Rasulullah SAW. (rio)
