KENDAL, KENDALMU.OR.ID— Gerhana bulan total yang terjadi pada 3 Maret 2026 atau bertepatan dengan 15 Ramadan 1447 Hijriah menjadi perhatian publik.
Berdasarkan katalog resmi NASA, peristiwa tersebut tercatat sebagai satu dari hanya empat gerhana bulan yang terjadi di bulan Ramadan dalam rentang 2000 hingga 2026.
Dalam periode itu, aktivitas astronomi tergolong tinggi dengan 58 kali gerhana matahari dan puluhan gerhana bulan terjadi di berbagai belahan dunia.
Namun, gerhana yang bertepatan dengan Ramadan dinilai langka karena hanya terjadi saat fase purnama, sementara tidak setiap fase purnama jatuh pada bulan suci dalam kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan.
Menyikapi fenomena tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerbitkan instruksi resmi kepada seluruh jajaran pimpinan wilayah hingga ranting untuk melaksanakan Salat Gerhana Bulan (khusuf).
Dalam surat edaran ditegaskan, gerhana merupakan tanda kebesaran Allah SWT dan umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, doa, istigfar, serta sedekah.
“Ketika terjadi gerhana bulan, kaum muslimin disunahkan melaksanakan salat khusuf secara berjamaah di masjid atau musala,” demikian kutipan instruksi tersebut.
Di Kabupaten Kendal, Takmir Masjid Mujahidin menggelar salat khusuf yang diikuti sekitar 500 jamaah.

Salat dipimpin Ustadz Abdul Rouf, sementara khutbah disampaikan Ketua PD Muhammadiyah Kendal, KH Ikhsan Intizam.
Dalam khutbahnya, Ikhsan menegaskan bahwa gerhana merupakan bagian dari ketetapan hukum alam yang diciptakan Allah dengan presisi.
Ia mengutip Surat Yunus ayat 5 yang menjelaskan matahari dan bulan bergerak dalam orbit teratur dan memiliki perhitungan yang pasti.
“Gerhana bulan menjadi bukti bahwa Allah menetapkan peredaran benda langit dengan hukum yang sangat presisi,” tegasnya di hadapan jamaah.
Ia juga mengingatkan Surat Az-Zariyat ayat 56 tentang tujuan penciptaan manusia untuk beribadah kepada Allah. Menurutnya, gerhana harus dimaknai sebagai momentum introspeksi.
“Kalau alam saja tunduk pada aturan Allah, bagaimana dengan kita? Apakah akan taat atau justru durhaka?” ujarnya.
Ikhsan menegaskan gerhana bukan pertanda kematian seseorang maupun mitos Batara Kala dalam tradisi Jawa.
Ia menyebut fenomena tersebut murni peristiwa alam yang seharusnya memperkuat tauhid dan kepedulian sosial.
“Ini momentum memperbanyak doa dan memperbaiki hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan alam,” pungkasnya.
