KENDALMU.OR.ID. Tak cukup hanya piawai menguasai teori, calon tenaga keperawatan dituntut mampu bertindak cepat ketika berhadapan dengan pasien kritis.
Bekal itulah yang ditempa Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Kendal Batang (UMKABA) melalui pelatihan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) bagi 63 mahasiswa selama enam hari, 2-7 Agustus 2026.
Bekerja sama dengan provider kegawatdaruratan Medstar Emergency, mahasiswa Program Studi D3 dan S1 Keperawatan digembleng melalui pembelajaran teori, simulasi hingga praktik penanganan berbagai kondisi kegawatdaruratan.
Pelatihan dirancang untuk membentuk kemampuan mahasiswa dalam melakukan penilaian awal pasien, mengenali kondisi yang mengancam nyawa, menentukan prioritas tindakan hingga memberikan pertolongan sesuai prosedur.
Sejumlah materi diberikan, mulai Basic Life Support (BLS), bantuan hidup dasar, henti jantung dan henti napas, resusitasi jantung paru (RJP), penggunaan Automated External Defibrillator (AED), penanganan trauma, kegawatan kardiovaskular, airway dan breathing management, triase, hingga penanganan awal pasien gawat darurat.

Peserta juga mengikuti simulasi disaster dan berbagai skenario kegawatdaruratan. Metode tersebut membuat mahasiswa tak sekadar memahami konsep, tetapi juga dituntut mengambil keputusan dan melakukan tindakan secara cepat serta tepat.
Dekan Fakultas Kesehatan UMKABA, Yulia Ardiani, menegaskan BTCLS menjadi bekal penting sebelum mahasiswa memasuki dunia pelayanan kesehatan.
“Mahasiswa keperawatan tidak cukup hanya menguasai teori. Mereka harus memiliki keterampilan dan kesiapan menghadapi kondisi kegawatdaruratan. Melalui BTCLS ini, kami ingin mahasiswa memiliki kemampuan yang lebih terarah ketika menghadapi pasien dalam kondisi kritis,” kata Yulia, Jumat (7/8/2026)
Menurutnya, kompetensi kegawatdaruratan harus diasah secara berkelanjutan melalui pembelajaran dan pengalaman praktik. Karena itu, mahasiswa didorong mengikuti pelatihan secara serius.
Yulia menegaskan, Fakultas Kesehatan UMKABA terus mendorong keseimbangan kemampuan akademik, keterampilan klinis dan profesionalisme mahasiswa.

“Kami ingin lulusan Fakultas Kesehatan UMKABA tidak hanya memiliki ijazah, tetapi benar-benar memiliki kompetensi yang dibutuhkan di lapangan,” pungkasnya. (lia)
Sementara itu, tim instruktur BTCLS Medstar Emergency, Sulistiyono, mengatakan kecepatan dan ketepatan menjadi kunci dalam menangani pasien dengan kondisi mengancam jiwa.
“Dalam kegawatdaruratan, waktu sangat menentukan. Peserta harus mampu melakukan penilaian awal, mengenali masalah yang mengancam nyawa, kemudian menentukan tindakan prioritas secara cepat dan tepat,” tegasnya.
Ia menambahkan, praktik menjadi bagian penting agar mahasiswa terbiasa menghadapi situasi darurat.
“Tidak cukup hanya mengetahui teorinya. Mereka harus terlatih melakukan tindakan. Simulasi dan praktik penting agar ketika menghadapi kondisi sebenarnya di lapangan, mereka tidak panik dan dapat menjalankan prosedur dengan benar,” tandasnya. (lia)
