Cerpen Gofur Alkendali
Ramadan seharusnya turun seperti hujan yang lembut. Ia datang membawa damai, membasuh jiwa-jiwa yang lelah oleh dunia.
Tetapi tahun ini, Ramadan tiba bersama dentuman yang mengguncang langit.
Namanya Rafi. Dua puluh dua tahun. Seorang pemuda Islam yang sejak kecil mencintai masjid lebih dari apa pun.
Ia tumbuh dengan kisah-kisah sejarah tentang keberanian, tentang kesabaran para nabi, tentang bagaimana umat terdahulu diuji bukan dengan kelapangan, melainkan dengan kesempitan.
Namun tak pernah ia membayangkan akan menyaksikan perang besar di zamannya sendiri.
Ketika kabar pecahnya perang antara Iran melawan Amerika dan sekutunya menyebar di layar-layar ponsel, Rafi sedang duduk di serambi masjid kampungnya.
Malam itu adalah malam setengah perjalanan Ramadan. Lampu-lampu gantung masjid menyala temaram.
Anak-anak masih berlarian selepas tarawih, sementara orang-orang tua berbincang tentang harga beras, minyak dan Sembako yang mulai merangkak naik, bahkan di desa sebelah sudah mencapai puncak harga.
Lalu notifikasi demi notifikasi berdatangan.
Serangan udara. Balasan rudal. Ketegangan di Teluk. Ancaman meluas.
Rafi membaca semuanya dengan jantung berdebar. Ia tahu perang itu jauh secara geografis, tetapi dekat secara batin.
Di sana ada saudara-saudara seiman. Di sana ada tanah yang setiap hari disebut dalam berita. Dan di sana, Ramadan juga sedang berjalan—dengan langit yang tidak lagi sunyi.
Malam berikutnya, suasana berubah. Di televisi masjid, berita internasional diputar sebelum salat tarawih.
Gambar-gambar gedung yang runtuh, suara sirene ambulans, wajah-wajah penuh debu dan air mata.
Anak kecil yang dipeluk ibunya. Seorang lelaki tua yang berdiri memandangi rumahnya yang tinggal puing.
Rafi menunduk. Tenggorokannya tercekat.
“Kenapa Ramadan selalu datang bersama ujian?” bisiknya dalam hati.
Ia teringat ayat yang pernah disampaikan ustaznya: “Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan berkata: ‘Kami beriman,’ sedang mereka tidak diuji?”
Malam itu ia sujud lebih lama. Air matanya jatuh di sajadah. Ia merasa kecil. Sangat kecil.
Dunia seperti sedang terbelah, dan ia hanya seorang pemuda biasa yang tak punya kuasa menghentikan apa pun.
