KENDALMU.OR.ID. Merawat lingkungan tak cukup hanya dengan gerakan penghijauan dan pengelolaan sampah.
Kesadaran ekologis juga perlu dibangun melalui nilai agama dan pendekatan seni. Gagasan itulah yang ditawarkan buku Ekoteologi Estetis: Membaca Seni dan Kelestarian Lingkungan dalam Perspektif Islam Berkemajuan yang resmi diluncurkan dalam Musyawarah Pimpinan Daerah (Musypimda) Muhammadiyah Kendal, Sabtu (8/8/2026).
Bendahara PDM Kendal, Utomo, mengatakan buku tersebut hadir untuk menjembatani persoalan lingkungan dengan seni dan nilai-nilai Islam Berkemajuan.
Lingkungan tidak hanya dipandang sebagai persoalan teknis, tetapi juga menyangkut cara manusia memaknai hubungan dengan alam.
“Buku ini mengajak kita melihat bahwa krisis ekologis bukan semata-mata persoalan kerusakan alam, tetapi juga krisis cara pandang manusia terhadap lingkungan,” kata Utomo saat launching buku dalam Musypimda Muhammadiyah Kendal.
Menurutnya, buku yang ditulis jamaah Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PD Muhammadiyah Kendal ini menawarkan paradigma yang memadukan teologi Islam Berkemajuan, kelestarian lingkungan, dan seni yang mencerahkan.
Ketiganya dipandang memiliki peran penting dalam membangun peradaban yang berkeadilan sekaligus berkelanjutan.
Utomo menjelaskan, gagasan utama dalam buku tersebut berangkat dari kondisi dunia yang menghadapi krisis lingkungan, seperti perubahan iklim, rob, abrasi, kerusakan hutan, hingga hilangnya keanekaragaman hayati.
Di sisi lain, seni dinilai semakin berkembang secara estetis, tetapi tidak selalu dekat dengan persoalan sosial dan lingkungan.
“Krisis ekologis dan krisis seni ternyata memiliki akar yang sama, yakni terputusnya hubungan manusia dengan alam. Karena itu, seni harus kembali memiliki fungsi sosial dan menjadi media perubahan,” tegasnya.
Buku Ekoteologi Estetis menawarkan lima gagasan besar. Di antaranya, krisis ekologis merupakan krisis cara pandang, seni harus menjadi media perubahan sosial, serta Islam Berkemajuan dapat menjadi fondasi gerakan lingkungan.
Konsep tersebut bertumpu pada nilai tauhid, amanah manusia sebagai khalifah, dan prinsip rahmatan lil ‘alamin.
Alam ditempatkan bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan amanah yang harus dirawat dan dimanfaatkan secara bertanggung jawa
Utomo menambahkan, seni dapat menjadi media dakwah ekologis yang menyentuh kesadaran masyarakat.
Seni tidak berhenti pada keindahan, tetapi mampu membangun empati, kesadaran, dan gerakan bersama untuk menjaga bumi.
“Merawat bumi membutuhkan iman, ilmu, amal, dan estetika. Lima gagasan dalam buku ini diarahkan menjadi satu gerakan untuk membangun kesadaran ekologis yang lebih mencerahkan,” pungkasnya. (fur)
