WELERI, KENDALMU.OR.ID — Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Kendal, Abdul Malik, menegaskan bahwa arah kebijakan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memastikan pembangunan berjalan adil dan berkelanjutan. Hal itu disampaikannya dalam forum refleksi akhir tahun yang digelar bersama Bupati dan Wakil Bupati Kendal, Selasa malam (23/12/2025).
Dalam paparannya, Malik membuka diskusi dengan pendekatan naratif dan reflektif melalui kisah-kisah profetik yang sarat makna perubahan. Ia menyebut legenda Baruklinting yang mencabut lidi hingga memancarkan sumber air, kisah Sunan Bonang yang mengalirkan air tawar di pesisir Tuban, serta Nabi Musa yang membelah Laut Merah sebagai simbol kekuatan moral dan kepemimpinan.

“Dari tiga kisah itu kita belajar bahwa alat yang tampak sederhana dapat membentuk bentang alam dan menjadi sumber kehidupan manusia,” ujar Malik. “Hari ini, bolpoin Bupati dan Wakil Bupati adalah tongkat perubahan. Dari sanalah lahir kebijakan nyata yang menentukan arah masa depan Kendal,” tegasnya.
Malik kemudian menyoroti persoalan lingkungan yang dinilai semakin kompleks, mulai dari eksploitasi sumber daya alam, deforestasi, aktivitas galian C, hingga alih fungsi lahan yang tidak terkendali.
Ia menilai isu-isu tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena berdampak langsung pada keberlanjutan ekologis dan ketahanan sosial masyarakat.

Malik secara khusus menyinggung pengelolaan kawasan hutan melalui skema Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Menurutnya, meski warga diberikan hak mengelola lahan dengan sistem tumpangsari, potensi penyimpangan tetap perlu diantisipasi.
“Warga LMDH memang diberi ruang mengelola lahan sesuai aturan. Namun potensi alih fungsi lahan dalam dua hingga tiga tahun ke depan harus benar-benar dicermati dan diawasi. Jangan sampai pengelolaan berubah menjadi eksploitasi,” tegas Malik.
Selain isu lingkungan, Malik juga menyinggung aspek keadilan ekonomi dan keberpihakan terhadap kelompok rentan. Ia mengungkapkan adanya program pembiayaan Qardhul Hasan senilai Rp3 miliar yang diperuntukkan bagi pedagang Pasar Weleri yang terdampak kebakaran.

Program tersebut, kata Malik, tidak hanya bersifat bantuan modal, tetapi juga bagian dari upaya pemulihan ekonomi berbasis solidaritas dan keberlanjutan.
“Qardhul Hasan ini menjadi ikhtiar konkret untuk menguatkan kembali denyut ekonomi pedagang kecil yang terdampak musibah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Malik menyampaikan bahwa Pemuda Muhammadiyah Kendal juga aktif melakukan pendampingan terhadap petani muda sebagai bagian dari strategi jangka panjang membangun ketahanan pangan dan regenerasi sektor pertanian.
“Pemuda Muhammadiyah Kendal saat ini sedang melakukan pendampingan kepada para petani muda. Ini penting agar sektor pertanian tidak kehilangan generasi penerus dan mampu beradaptasi dengan tantangan zaman,” katanya.
Ia menegaskan, refleksi akhir tahun bukan sekadar ruang diskusi, tetapi momentum evaluasi bersama antara masyarakat sipil dan pemerintah daerah untuk memastikan pembangunan tidak hanya berorientasi pada angka pertumbuhan, melainkan juga keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial.
“Pembangunan harus berpijak pada etika lingkungan dan keberpihakan pada rakyat kecil. Tanpa itu, kemajuan hanya akan menjadi angka, bukan kesejahteraan,” pungkas Malik. (fur)
