KENDALMU.OR.ID – Sebanyak 49 kepala sekolah dan kepala madrasah Muhammadiyah se-Kabupaten Kendal mengikuti Baitul Arqam yang digelar di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Tengah, Semarang, Senin-Selasa (15–16/6/2026)
Kegiatan selama dua hari satu malam tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat fungsi kaderisasi di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan.
Master of Training (MoT) Baitul Arqam, Shobaril Yuliadi, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan ikhtiar bersama Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) serta Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal PDM Kendal dalam memperkokoh peran AUM pendidikan sebagai pusat kaderisasi Muhammadiyah.

Menurutnya, kepala sekolah dan kepala madrasah harus memiliki pemahaman ideologi dan gerakan Muhammadiyah yang kuat agar mampu menjadi motor penggerak kaderisasi di satuan pendidikan masing-masing.
“Baitul Arqam ini merupakan langkah awal penguatan fungsi perkaderan di AUM pendidikan. Setelah kepala sekolah dan kepala madrasah, program ini akan dilanjutkan secara bertahap kepada guru Al Islam dan Kemuhammadiyahan,” tegas Shobaril.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten di bidang perkaderan dan pendidikan Muhammadiyah, di antaranya Zuhron dari MPKSDI Jawa Tengah, Bahtiar dari MPKSDI Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ketua Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Non Formal PDM Kendal Inu Indarto, serta Edy Hansa dari MPKSDI Kabupaten Kendal.
Ketua Panitia, Sugiri, mengatakan Baitul Arqam tidak hanya bertujuan meningkatkan kompetensi kepemimpinan peserta, tetapi juga memperkuat keimanan, ketakwaan, dan komitmen mereka sebagai kader persyarikatan.

“Kepala sekolah adalah mujahid pendidikan. Tugasnya bukan hanya mencerdaskan generasi bangsa, tetapi juga menyiapkan kader Muhammadiyah yang akan memimpin lima hingga sepuluh tahun mendatang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kesejahteraan guru dan karyawan, terutama yang bertugas di daerah pelosok.
Sementara itu, Wakil Ketua PDM Kendal, Maryono, menegaskan bahwa penguatan ideologi Kemuhammadiyahan menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah terjadinya stunting ideologi di lingkungan sekolah.
“Sekolah Muhammadiyah harus unggul dalam ideologi, profesionalisme, manajemen, dan pelayanan. AUM pendidikan adalah pusat dakwah sekaligus tempat mencetak pemimpin Muhammadiyah masa depan,” tegas Maryono.
Ia menambahkan, sinergi antara sekolah dan pimpinan Muhammadiyah di semua tingkatan perlu diperkuat, disertai komitmen bersama untuk meningkatkan kesejahteraan guru dan karyawan agar lebih layak dan bermartabat. (farqi)
