KENDALMU.OR.ID – Kajian Ahad Pagi yang digelar di Masjid Baitul Muttaqin SD IT Muhammadiyah Cepiring pada Ahad (14/6/2026) menghadirkan Ustadz Galuh Andi Luxmana sebagai pemateri.
Dalam tausiyahnya, ia menyoroti pentingnya pendidikan anak dalam perspektif Islam, khususnya peran orang tua dalam membimbing anak menuju jalan Allah dengan kesabaran, kasih sayang, dan keteladanan.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak bisa hanya diukur dari capaian akademik atau kemampuan formal keagamaan.
Di tengah masyarakat, kata “anak saleh” sering dipersempit menjadi anak yang mampu menghafal Juz 30, pandai mengaji, atau meraih peringkat kelas terbaik. Padahal, menurutnya, makna kesalehan jauh lebih luas dan dinamis.
“Anak yang tadinya tidak mau mengaji lalu menjadi mau mengaji, yang tadinya salat sendiri di rumah kemudian mulai berjamaah di masjid, atau yang sebelumnya enggan mengakui kesalahan lalu belajar meminta maaf, itu juga merupakan keberhasilan pendidikan yang luar biasa,” ungkapnya.
Perubahan-perubahan kecil tersebut, lanjutnya, merupakan indikator tumbuhnya iman dan akhlak anak.

Karena itu, orang tua tidak boleh tergesa-gesa memberi label negatif ketika anak melakukan kesalahan. Kesalahan justru menjadi bagian penting dari proses belajar yang harus diarahkan dengan bimbingan, bukan hukuman semata.
Ustadz Galuh menekankan pentingnya peran orang tua sebagai pendamping yang konsisten dalam proses pendidikan.
Orang tua, katanya, harus hadir untuk memberi arahan, meluruskan kesalahan, dan mendampingi setiap tahap perkembangan anak.
“Sesederhana ketika anak berbuat salah lalu kita nasihati dan kita benahi. Itulah hakikat pendidikan. Nasihat yang terus membersamai proses anak akan menjadi bekal yang sangat berharga bagi kehidupannya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tugas manusia hanya sebatas berikhtiar dalam pendidikan, sedangkan hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah SWT. Tidak ada yang dapat memaksakan petunjuk kepada seseorang.
Ustadz mengutip kisah Nabi Muhammad SAW yang sangat mencintai pamannya, Abu Thalib, namun tidak berhasil mengislamkannya hingga akhir hayat.
Hal ini merujuk pada QS. Al-Qashash ayat 56 yang menegaskan bahwa hidayah adalah kehendak Allah semata.
Menurutnya, hal itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak selalu terlihat dari hasil akhir, melainkan dari kesungguhan usaha orang tua dalam membimbing anak di jalan yang diridhai Allah.
Ustadz Galuh juga menekankan pentingnya pembentukan karakter sejak dini. Sejalan dengan pandangan Imam Al-Ghazali, anak merupakan amanah yang lahir dalam keadaan fitrah dan sangat dipengaruhi lingkungan. Karena itu, pembiasaan adab sehari-hari, pemilihan lingkungan pergaulan yang baik, serta pemberian teladan dan nasihat yang bijak menjadi bagian penting dalam pendidikan yang berkelanjutan. (aufa)
