KENDALMU.OR.ID – Kerja keras tanpa bekal ilmu bisa berujung salah langkah. Umat Islam tidak cukup hanya mengandalkan tenaga dan kinerja, tetapi harus memiliki pengetahuan agar mampu mengambil keputusan tepat dan menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Pesan tegas itu disampaikan Ustadz Sugiyono dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngampel di Aula Kecamatan Ngampel, Ahad (18/10/2026). Kajian bertema Pentingnya Pendidikan dalam Islam tersebut diikuti anggota PCM dan pegawai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Mengawali kajian, Sugiyono mengajak jamaah membaca Surah Al-‘Alaq. Menurutnya, wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW itu menegaskan pentingnya membaca sebagai landasan mencari ilmu dan memahami kehidupan.

“Islam sangat menghargai ilmu. Ada yang mengatakan tidak peduli ilmu, yang penting kinerja. Masa iya sawah kena hama wereng dikasih fungisida? Jadi, umat Muslim harus cerdas,” tegasnya.
Ia menjelaskan, ilmu memiliki peran penting untuk meningkatkan kualitas diri sekaligus menjawab berbagai persoalan masyarakat. Ilmu agama menjadi pedoman menjalani kehidupan, sedangkan ilmu sesuai bidang keahlian dibutuhkan untuk mendukung kemajuan berbagai sektor.
Sugiyono mencontohkan ilmu kedokteran yang bermanfaat menjaga kesehatan serta ilmu pertanian yang membantu meningkatkan hasil panen. Penguasaan ilmu memungkinkan seseorang memahami persoalan dan menentukan langkah penyelesaian secara tepat.
Namun, ia mengingatkan agar ilmu digunakan untuk tujuan yang benar. Pengetahuan yang dimanfaatkan untuk melakukan kejahatan justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam sehingga harus dihindari.

Lebih lanjut, Sugiyono menekankan bahwa ilmu tidak boleh berhenti pada pengetahuan pribadi. Ilmu harus diamalkan dan dibagikan agar memberikan manfaat berkelanjutan. Pengetahuan yang diajarkan kepada orang lain dan terus dimanfaatkan dapat menjadi amal jariah meskipun seseorang telah meninggal dunia.
Sebagai motivasi, ia menceritakan kiprah ilmuwan Muslim Ibnu Sina serta keberhasilan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Bonjor, Temanggung, membangun terowongan air untuk memenuhi kebutuhan warga. Kisah tersebut menunjukkan bahwa ilmu dapat diwujudkan menjadi karya nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Menutup kajian, Sugiyono mengajak jamaah membiasakan membaca Al-Qur’an maupun buku pengetahuan minimal 15 menit setiap hari.
“Mari kita belajar Al-Qur’an, kita baca atau baca buku ilmu 15 menit, baik di buku atau HP, tetapi jangan sampai tiba-tiba TikTokan,” pesannya.(rio)
