Cerpen Tibyani
Kumandang azan Maghrib menggema, bersahutan dengan suara guntur yang menggelegar di langit. Seakan menjadi tanda, hujan akan segera turun.
Fulan berdiri di ambang pintu, sudah bersiap melangkah menuju masjid. Sempat terlintas keraguan—haruskah ia menunda langkah?
Namun ia meneguhkan hati.
Kalaupun hujan, itu hanya air, batinnya. Di Palestina, Iran, dan Libanon, yang turun bukan sekadar hujan, melainkan bom dan peluru kendali. Ia pun berangkat.
Rakaat pertama dilaluinya dalam kekhusyukan. Bacaan imam mengalun, meresap ke relung hati. Namun pada rakaat kedua, konsentrasinya retak.
Hujan benar-benar turun—deras, menghantam atap galvalum dengan suara nyaring yang menggulung ruang masjid.
Pada rakaat ketiga, kegelisahan mulai menyelinap. Ada harap yang sederhana: semoga hujan segera reda.
Salat berjamaah usai. Fulan tetap duduk, melanjutkan wirid hingga tuntas. Ia pun menunaikan salat sunnah ba’diyah dengan tenang.
Kini, ia tak lagi tergesa berharap hujan berhenti. Ia memilih menerima.
Disyukurinya.
Sejak awal April hingga pertengahan bulan, hujan baru kali ini turun. Sebuah nikmat yang lama dinanti.
Matanya mulai mengamati sekitar.
Beberapa jamaah telah bersiap pulang. Ada yang membuka payung, ada yang meraih mantel dari dalam jok motor.
Sebagian dijemput keluarga. Bahkan ada yang membawa pulang payung inventaris masjid—yang jumlahnya hanya dua.Namun tidak semua beranjak.
Fulan menghitung. Dua belas laki-laki, sepuluh perempuan masih bertahan. Ia mengamati lebih saksama.
Tiga orang laki-laki larut dalam tadarus Al-Qur’an. Empat lainnya berbincang, suara mereka hampir kalah oleh gemuruh hujan.
Dua orang bercakap lirih. Satu orang terbaring, seakan letih yang tak tertanggungkan. Seorang lagi duduk di depan pintu, menatap hujan—entah sedang bersyukur atau gelisah menanti reda.
Fulan tetap di tempatnya. Di titik terakhir ia menunaikan salat sunnah. Pikirannya mengembara.
Bukankah Ustaz Faruq pernah berkata, waktu terbaik antara Maghrib dan Isya adalah tinggal di masjid? Namun tadi, ustaz justru bergegas pulang, mengenakan mantel.
Fulan tersenyum kecil. Mungkin ada urusan penting yang tak bisa ditunda.
Ia menoleh ke sudut ruangan. Dispenser tersedia, namun kosong—tak ada air di dalam galonnya, apalagi gula dan kopi.
Sementara di dalam kulkas, tersusun rapi air minum kemasan—dingin, segar, siap diminum.
Dispenser pun menjadi tak terpakai.
Pikirannya terus berjalan, hingga berhenti pada satu kalimat yang pernah ia dengar dari Ustaz Sulkhan Ahmad: “Masjid makmur, memakmurkan.”
Sebuah kalimat sederhana, namun menggema panjang di batinnya.
Dan saat ia masih tenggelam dalam renungan itu, kumandang azan Isya pun kembali memecah ruang.
Hujan belum sepenuhnya reda.
Namun hati Fulan—telah menemukan teduhnya.
Truko. 15 April
