KENDAL, KENDALMU.OR.ID — Semangat Iduladha tak ingin lagi berhenti di pusat kota. Tahun ini, Lazismu Kendal melanjutkan langkah di tahun sebelumnya: menyasar belasan desa di wilayah pinggiran dan pegunungan melalui program “Qurban Tepian Negeri” pada Iduladha 1447 Hijriah.
Program ini menjadi jawaban atas persoalan klasik yang berulang tiap tahun—penumpukan hewan kurban di perkotaan, sementara desa-desa terpencil kerap hanya menjadi penonton.
Manajer Lazismu Kendal, Aofi AN Surya Madani, mengungkapkan hasil keputusan Rakorsus Idul Qurban Sabtu (25/4/2026) menegaskan bahwa program tepian negeri bukan sekadar distribusi bantuan, melainkan upaya menghadirkan keadilan sosial dalam momentum keagamaan.

“Kami tidak ingin kurban hanya menumpuk di wilayah perkotaan. Desa-desa pinggiran juga harus merasakan manfaat yang sama,” tegasnya, Senin (4/5/2026).
Belasan desa sasaran telah dipetakan secara khusus, berdasarkan minimnya penerimaan hewan kurban pada tahun-tahun sebelumnya.
Dalam skema distribusi langsung, setiap desa akan menerima satu ekor sapi hidup yang dikirim menjelang H-1 Iduladha.
Tak hanya menyalurkan, Lazismu juga menyiapkan tim relawan untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai syariat—mulai dari penyembelihan hingga pembagian daging kepada masyarakat yang berhak.
“Kami pastikan prosesnya tidak hanya sesuai syariat, tetapi juga tertib dan benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan,” imbuh Aofi.

Sementara itu, Divisi Program Lazismu Kendal, Ilham Khur Aini, menjelaskan bahwa penentuan lokasi dilakukan berdasarkan usulan dari Kantor Layanan (KL) Lazismu se-Kabupaten Kendal.
Pihaknya juga membuka peluang pengajuan dari desa-desa yang masuk kategori “tepian negeri”.
“Kami siap menyalurkan hewan kurban berdasarkan surat pengajuan dari desa yang bersangkutan, lengkap dengan pendampingan relawan,” ujarnya.
Selama ini, sejumlah desa di wilayah pinggiran masih bergantung pada bantuan dari luar daerah untuk pelaksanaan kurban.
Melalui program ini, Lazismu Kendal berharap ada perubahan nyata—bahwa Iduladha bukan hanya tentang ritual tahunan, tetapi juga momentum pemerataan kesejahteraan dan penguat solidaritas sosial.
Di tengah keterbatasan, harapan itu kini mulai dikirim—seekor demi seekor, menuju desa-desa yang selama ini jarang tersentuh. (fur)
